Nyolot

Berita politik bukanlah termasuk satu hal yang saya nikmati perkembangannya. Adanya kemudahan akses informasi terutama di media sosial, sayangnya  tidak membuat saya tergerak untuk terlalu well informed untuk urusan politik. Buat saya, dengan tahu siapa yang sedang diberitakan dan karena kasus apa, itu sudah cukup. Tidak perlu mencari tahu lebih dalam lagi sampai ke hal-hal lain yang lebih ruwet dan lebih konspiratif dari itu. Paling tidak, masih bisa nyambung lah kalau ada yang ngajak ngobrol tentang issue politik yang sedang hangat. Masih bisa jawab kalau ada yang tanya siapa itu Ahmad Fathanah. Dan ada hubungan apa dia dengan aktris Ayu Azhari.

Tetap saja ya, nggak jauh-jauh dari sudut pandang hiburan.

Wajar saja sih, karena semakin hari isi berita-berita politik memang sering disangkut-pautkan dengan entertainment. Apalagi jika orang yang sedang berkasus adalah seorang politikus yang juga seorang artis. Atau murni politikus tetapi kasusnya kemudian melibatkan nama-nama terkenal dari jagat hiburan, seperti Ahmad Fathanah itu tadi. Makin kencanglah media mem-blow up beritanya, sampai kemana-mana. Ke sudut pandang yang mungkin tidak ada hubungannya sama sekali dengan kasus utamanya. Masih ingat dengan kasus Mayangsari dulu, saat ia dituding merebut Bambang Triatmodjo dari Halimah? Sebuah infotainment bahkan sampai berinisiatif melakukan liputan ke SMP tempat mbak Mayang dulunya bersekolah, dan berhasil memperlihatkan buku raport miliknya, dimana salah satu nilainya ternyata berwarna merah. Jauh banget kan ya, nilai merah di raport dengan tudingan perebut suami orang?

Baiklah, mulai ngawur ini arah penulisannya. Tetaip kurang lebih seperti itulah keadaannya. Kembali ke sisi ‘hiburan’ dari kasus-kasus politik (dalam hal ini adalah kasus korupsi), sangat menarik dan terhibur jika memperhatikan sisi ‘manusiawi’ dari si pelaku. Kita tahu, bahwa tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang dengan senang hati menerima dengan lapang dada jika ia disalahkan. Sudah takdirnya kita melakukan pembelaan diri. Saat sudah ‘dipepet’ dengan bukti yang meyakinkan pun insting kita selalu berkata, bela-lah dirimu semampumu. Ini yang mungkin diamini oleh para tersangka korupsi. Tidak heran jika hampir semuanya melakukan pembelaan dengan pola yang sama.

Coba perhatikan. Waktu tertangkap, mereka pasti bilang “INI PASTI ADA KONSPIRASI!”. Setelah kemudian jadi tersangka, teriakannya akan berganti, “INI PASTI POLITISASI!”. Masih usaha supaya publik percaya ia tidak bersalah. Dan saat kemudian statusnya meningkat menjadi terdakwa, mereka akan teriak “INI PENDZALIMAN!”. Begitu seterusnya. Berulang-ulang, siapapun yang menjadi oknumnya. Makanya saya sangat tertarik saat membaca tulisan Mahfud MD di sini . Bagaimana orang-orang yang berbuat salah di negara ini sudah tidak lagi punya rasa malu. Sudah salah, bukannya diam dan mengakui, malah sibuk cari alibi. Mencari alibi mungkin masih standar, sekarang ini musimnya orang yang salah malah balik ‘nantangin’!

Tapi tenang, saya tidak akan mengoceh terlalu panjang soal masalah politik. Kamu juga tidak mengharapkan ada tulisan yang seberat itu di blog saya ini, bukan? Saya hanya ingin berbagi cerita yang saya alami, yang semakin membuktikan bahwa sepertinya memang makin banyak orang seperti yang disebutkan oleh pak Machfud MD di tulisannya itu. Orang-orang yang sudah tidak punya malu lagi, dan justru malah ngeyel saat berbuat salah. Saya pernah mengalaminya. Dua kali, malahan. Lokasi kejadiannya sama : di jalan raya.

Kejadian pertama sudah cukup lama. Jadi ceritanya saat itu saya sedang menuju ke kantor. Tiba-tiba saya disalip oleh mbak-mbak pengendara motor dari arah kanan dan tiba-tiba motor itu berbelok ke kiri tanpa terlebih dulu menyalakan lampu sign. Tentu saja kejadian itu membuat saya kaget setengah mati sampai harus kerepotan menjaga keseimbangan agar motor saya tidak jatuh akibat aksi nge-rem mendadak yang saya lakukan. Karena kebetulan saya juga saat itu akan belok kiri (dan berarti searah dengan si pengendara itu), dengan rada emosi saya segera menyusul si pengendara motor itu  dan berteriak,

“PIYE TOH, MBAK?!”

Itu bukan pertanyaan, sih. Lebih pada pernyataan (atau mungkin peringatan) saja. Sebagai ekspresi keheranan atas kengawuran cara mengendarai si mbak yang bisa membahayakan siapa pun yang ada di posisi saya saat itu. “Eh mbak, elu kursus dimana sih nyetirnya?? Yang bener dong!!”. Begitu mungkin tepatnya maksud peringatan saya. Tapi entah kenapa kok keluarnya cuma ‘piye toh mbak’ itu tadi. Yaa namanya juga lagi emosi. Suka nggak sinkron antara otak sama mulut. Tidak sampai hitungan 10 detik, si mbak itu langsung menjawab dengan nada suara yang tidak kalah menyebalkan,

“LHA PIYE, MAS??!!’

sambil tetap lempeng melarikan motornya seolah tidak terjadi apa-apa.

Saya bengong. Shock. Lah kok galakan dia, yah? Continue reading