3
Feb

Dulu dan Sekarang

Apakah tanda-tanda kita sudah bertambah tua?

Satu yang paling gampang, adalah ketika kita ulang tahun. Karena pada hari itu, usia kita bertambah lagi. Semakin bertambah banyak jumlahnya, berarti semakin tua juga kita. Tanda lainnya, biasanya bisa dilihat dari penampakan fisik. Tentu saja semakin bertambah umur, tubuh kita juga mengalami penyesuaian. Wajah mulai ditumbuhi kerut, rambut mulai ditumbuhi uban atau perut yang mulai menggendut. Pasti ada kelihatan lah ya beda antara waktu muda dulu dengan kita sekarang atau beberapa tahun lagi.

Sebegitu menakutkannya kah menjadi tua?

Jawabannya pasti berbeda-beda pada setiap orang. Bukannya bermaksud memojokkan, tetapi pada kenyataannya yang lebih ribet untuk hal ini (biasanya) adalah kaum perempuan. Silakan lihat di sekitar kita saja. Di TV, misalnya. Entah sudah berapa puluh macam produk kecantikan dan kesehatan (yang entah benar-benar sehat atau tidak) yang memproklamirkan diri sebagai produk yang paling ampuhuntuk menghambat proses kerut alias proses penuaan pada perempuan. Mulai dari yang harganya belasan ribu (tapi dengan bintang iklan kelas dunia seperti Nadia Hutagalung) hingga yang harganya jutaan rupiah dengan nama produk yang susah dibaca. Mungkin kalau makin susah dibaca, otomatis akan dianggap paling yahud efeknya di wajah.

Usia itu tidak bisa dibohongi. Saat kita masih belasan tahun, tidak mungkin akan sama dengan ketika kita sudah menginjak angka duapuluh atau tigapuluh. Kelakuan saja yang mungkin masih bisa sama. Hehehe. Makanya saya sering tertawa sendiri ketika membaca promo sebuah tempat perawatan kecantikan yang bilang,

“Usia saya 42, tapi dikira 24″. 

Yeah, right. 

Kecuali kamu Nirina Zubir atau Andhara Early yang memang ditakdirkan memiliki wajah imut dan ‘muda’ terus, tentu tidak mungkin lah usia empatpuluhan kok dikira masih duapuluhan. Siapa yang mau kamu bohongi? Dan ngapain juga mesti repot-repot menutupi usia? Misalnya ketika ulangtahun, perempuan pun paling sering enggan mengakui berapa usianya. Apalagi ketika mulai menginjak 25-an keatas. Katanya, sih. Hehehe. Biasanya, mereka pasti akan menjawab dengan bercandaan,

“Oh, aku masih 17 tahun kok…” 

Kalau ada yang jawab dengan becanda model begini, biasanya saya akan komentarin singkat,

“Ooo..  sisa umurnya 17 tahun, maksudnya mbak?”. 

Hehehe.  Read the rest of this entry »

25
Jan

Marketing Panci

Coba, bayangkan.  Bagaimana reaksi kamu misalnya saja di suatu siang yang panas, disaat kamu sedang asik-asiknya menikmati istirahat siang, tiba-tiba pintu kamarmu diketuk oleh seseorang. Dan ketika (dengan malas) kamu melangkahkan kaki untuk membuka pintu, begitu pintu dibuka, ternyata yang mengetuk pintu itu adalah……………………………. Mitha The Virgin??

Kalau saya, pasti akan bengong dengan suksesnya. Kok bisa-bisanya siang-siang panas begitu Mitha  bisa ada di depan pintu kamar saya? Tapi bengong saya itu akan segera sirna. Yang ada malah  saya akan cuekin saja si Mitha ini. Karena pertama, saya nggak ngefans sama sekali dengannya, yang kedua -dan yang lebih penting, saya kemudian akan lebih sibuk celingak-celinguk mencari-cari kamera tersembunyi di sekitar kamar saya itu. Jangan-jangan saya sedang dikerjain dan masuk dalam sebuah reality show. Kalau iya, kan saya jadi bisa lebih jaga imej dan penampilan saya. Bisa pura-pura akting kaget setengah mati karena didatengin artis (walau nggak ngefans sama sekali), kalau perlu sampai jatuh pingsan. Yaa namanya juga masuk TV.

Itu kalau saya. Kalau teman saya lain lagi. Kejadiannya hampir sama. Jadi pada suatu siang yang panas, pintu kamar kosnya diketuk. Biasanya kalau yang mengetuk pintu kamarnya ya kalau tidak teman-teman dari kamar-kamar sebelahnya, ya biasanya ibu kos. Entah itu menagih uang sewa atau sekedar tebar-tebar pesona saja. Sehingga dia tidak menduga ketika membuka pintu, yang ada di depan pintu kamarnya itu adalah …………… seseorang yang mirip Mitha The Virgin!!

Bengong kah teman saya itu? Pastinya.  Ya siapa yang tidak akan shock ketika siang sepanas itu tiba-tiba ada perempuan dengan rambut emas dan anting-anting di berbagai bagian wajahnya – ya ala-ala Mitha The Virgin begitulah, ada didepan hidung kita? Kok bisa-bisanya dia ada disini? Apalagi kosnya termasuk kos yang tertutup dan tidak sembarang orang bisa masuk kedalamnya.  Dan yang membuat lebih shock lagi adalah ketika kemudian mbak-mbak (yang ingin terlihat) funky ini menawarkannya bergabung dengan program membership sebuah tempat hiburan malam. Jreenngg! Ternyata dia marketing tempat hiburan tersebut, sodara-sodara…

Bukan main cengok-nya teman saya itu dibuatnya.

Oke. Mari kita sok-sok-an berbicara tentang dunia marketing. Biar tulisan ini agak berbobot sedikit lah ya. Setiap perusahaan memang memiliki caranya masing-masing untuk memasarkan produkanya. Ada yang dengan cara biasa saja, ada juga yang ingin mencuri perhatian dengan cara yang diluar dugaan. Jujur, saya sih tidak menguasai tehnik marketing karena memang bidang saya bukan disitu. Saya disini hanya mencoba melihatnya dari kacamata saya sebagai konsumen saja. Konsumen yang rewel dan nyinyir, mungkin lebih tepatnya.

Inti dari jualan itu apa sih? Tentu saja mendapatkan pembeli atau konsumen yang sebanyak-banyaknya. Termasuk tempat hiburan ini, mereka memilih untuk terjun langsung secara  door to door untuk menawarkan produknya. Mungkin dari hasil penelitian mereka, ya cara itulah yang paling efektif dibanding cara lainnya, semisal menyebar flyer di jalan raya. Mengganggu lalu lintas, mengotori jalan dan mengganggu pemandangan. Sehingga dengan cara direct selling mendatangi rumah-rumah (bahkan kos-kos) yang menjadi target konsumen mereka, adalah cara yang paling benar untuk menjual. Tetapi yang mereka lupa, mungkin tidak semua orang siap menerima konsep jualan mereka itu.   Read the rest of this entry »

18
Jan

Nothing is Permanent …

 

… especially people.
Stranger become friends.
Friends become lover.
Lover become strangers.
Strangers become friends once more, and over and over..

~ Megan McCafferty

16
Jan

Lagu Galau

Salah satu kata yang ‘sangat 2011′ lalu adalah ‘galau’. Entah darimana awalnya, tetapi kata ini memang harus diakui sering sekali terdengar setiap saat. Setiap dihinggapi perasan tidak enak, langsung bilang galau. Sedikit-sedikit galau. Padahal saya yakin, kata ini sudah lama sekali ada di dalam kamus bahasa Indonesia. Tetapi entah kenapa, dulu kalah pamor dengan kata lain yang sebenarnya memiliki arti hampir sama, seperti ‘gelisah’ atau ‘gundah’. Ya, mungkin ibarat pepatah, semua memang akan indah pada waktunya. Mungkin baru setahun belakangan inilah si ‘galau’ ini bisa menikmati masa-masa popularitasnya.

Selain kata ‘galau’, ada satu lagi yang sangat-sangat populer di tahun 2011 lalu, yaitu lagu ‘Someone Like You’ yang dinyanyikan oleh penyanyi muda bernama Adele. Lagu tentang kegalauan seorang perempuan yang ditinggal menikah oleh pria pujaannya ini seolah menjadi anthem atau lagu wajib bagi semua orang yang sedang patah hati, dengan alasan apapun termasuk yang bukan karena ditinggal kawin oleh pacarnya sekalipun.

Sampai mblenger rasanya kalo mendengar lagu ini, bahkan dengan hanya mendengar intronya saja. Saking terlalu seringnya diputar dimana-mana. Bahkan ketika dulu saya masuk ke sebuah club, lagu ini pun juga dimainkan oleh DJ, dengan versi jedang-jedung! Owalahh. Entahlah, curiganya sih yang nyanyi lagu versi itu Neneng Anjarwati. Pengunjung pun ikut bergoyang dan bernyanyi. Sambil merem-merem juga. Antara menghayati atau sudah terlalu mabok, hard to tell. Tapi ini cukup membuktikan bahwa lagu ini begitu disukai, ya mungkin karena kentalnya nuansa ‘galau’ lagu itu tadi. Seolah-oleh tidak ada lagu lain di dunia ini yang lebih galau dibandingkan lagu Adele itu. Adele mampu mewakili kesedihan seorang perempuan. Tidak ada lagu lagin yang bisa menandingi. Benarkah demikian?

Read the rest of this entry »

11
Jan

Judulnya Judul-Judulan

Katanya, bumi itu berputar. Apa yang ada dibawah, kelak bergantian akan berada diatas. Begitu juga sebaliknya. Katanya lagi, apa yang ada sekarang ini adalah hanya pengulangan dari apa  yang pernah terjadi dahulu, hanya dengan ‘bungkus’ yang berbeda. Dunia mode mungkin jadi media yang paling sering menampakkan ini. Trend fashion di era jaman dulu, bisa  berulang menjadi trend kembali belasan atau puluhan tahun berikutnya. Dan ternyata, tanpa disadari, pengulangan itu sepertinya juga terjadi di dunia sinetron kita.

Wuidihh. Jauh bener ya kayaknya. Dari dunia mode kok ke dunia sinetron. Nggak apa-apa lah ya. Ide tulisan ini muncul akibat luangnya waktu saya di dua hari ini karena harus bed rest di rumah, sehingga yang saya lakukan selain makan, tidur dan mainan BlackBerry dan iPad adalah menonton TV yang – oh my God, isinya luar biasa membosankan itu. Bersyukurlah kita yang dari jam 9-5 berkutat dengan pekerjaan di luar rumah, bagaimanapun membosankannya itu, karena kita tidak terjebak menonton aneka program infotainment (yang isinya sama semua) dan program film televisi (FTV) yang ceritanya juga saling mirip satu sama lainnya itu.

Jadi dimana pengulangan yang saya maksudkan di awal tulisan itu tadi?

Pada judul-judul FTV tersebut. Masih ingat di awal tahun 2000-an dulu? Waktu itu Indonesia sedang booming sinetron-sinetron bernuansa agama yang dikenal dengan istilah sinetron religi. Yang mempelopori dulu kalau tidak salah adalah stasiun TPI dengan serial “Rahasia Ilahi”-nya. Setiap episode, serial ini selalu memiliki judul-judul yang menggelikan, yang membuat siapapun yang membacanya akan berkata, “Ya ampun…”. Semisal : “Ditolak Kubur Karena Durhaka”, “Tubuh Melepuh Karena Selingkuh” , “Jenazah Terbawa Banjir Akibat Tidak Pernah Bersedekah” dan lain sebagainya. Pokoknya semua judul yang dengan sekali baca saja, kita sudah tahu isi cerita sinetron itu secara keseluruhan.

Dulu, saya (dan mungkin kamu) juga sempat gatal karena penasaran, mengapa mereka bisa se-asal itu membuat sebuah judul? Jawaban yang saya dapat waktu itu ada 2 : karena cerita-cerita sinetron itu memang diambil dari cerita (yang katanya nyata) dari majalah-majalah religi, dan karena memang dengan judul seperti itu mampu menarik perhatian pemirsa stasiun televisi  itu yang notabene berasal dari kalangan menengah kebawah. Saya sih sebenarnya tidak menerima begitu saja kedua alasan itu,kesannya kok merendahkan intelegensia status sosial sekali.

Tetapi ya sudahlah ya. Kok ya sepertinya luang sekali waktu saya memikirkan hal beginian. Toh tidak lama kemudian, trend sinetron model-model begini pun tidak bertahan  lama karena memang lama-lama banyak yang memprotes dengan alasan sinetron tersebut lebih berbau mistis daripada unsur agamanya.Hanya karena di akhir sinetron ada ‘wejangan’ dari pemuka agama, bukan berarti sinetron itu berhak menyandang status sinetron religi ya. Dan justru mungkin karena itu juga penonton malah bete. Sudah asyik-asyik terhibur nonton sinetron, eh dibelakangnya masih harus diceramahin! Read the rest of this entry »