<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://ryudeka.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ryudeka.com</link>
	<description>&#34;One thing you can give and still keep is your words..&#34;</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Mar 2012 05:59:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Dulu dan Sekarang</title>
		<link>http://ryudeka.com/?p=2197</link>
		<comments>http://ryudeka.com/?p=2197#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 03:56:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ryudeka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ryudeka.com/?p=2197</guid>
		<description><![CDATA[Apakah tanda-tanda kita sudah bertambah tua? Satu yang paling gampang, adalah ketika kita ulang tahun. Karena pada hari itu, usia kita bertambah lagi. Semakin bertambah banyak jumlahnya, berarti semakin tua juga kita. Tanda lainnya, biasanya bisa dilihat dari penampakan fisik. Tentu saja semakin bertambah umur, tubuh kita juga mengalami penyesuaian. Wajah mulai ditumbuhi kerut, rambut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Apakah tanda-tanda kita sudah bertambah tua?</p>
<p style="text-align: justify;">Satu yang paling gampang, adalah ketika kita ulang tahun. Karena pada hari itu, usia kita bertambah lagi. Semakin bertambah banyak jumlahnya, berarti semakin tua juga kita. Tanda lainnya, biasanya bisa dilihat dari penampakan fisik. Tentu saja semakin bertambah umur, tubuh kita juga mengalami penyesuaian. Wajah mulai ditumbuhi kerut, rambut mulai ditumbuhi uban atau perut yang mulai menggendut. Pasti ada kelihatan lah ya beda antara waktu muda dulu dengan kita sekarang atau beberapa tahun lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebegitu menakutkannya kah menjadi tua?</p>
<p style="text-align: justify;">Jawabannya pasti berbeda-beda pada setiap orang. Bukannya bermaksud memojokkan, tetapi pada kenyataannya yang lebih ribet untuk hal ini (biasanya) adalah kaum perempuan. Silakan lihat di sekitar kita saja. Di TV, misalnya. Entah sudah berapa puluh macam produk kecantikan dan kesehatan (yang entah benar-benar sehat atau tidak) yang memproklamirkan diri sebagai produk yang paling ampuhuntuk menghambat proses kerut alias proses penuaan pada perempuan. Mulai dari yang harganya belasan ribu (tapi dengan bintang iklan kelas dunia seperti Nadia Hutagalung) hingga yang harganya jutaan rupiah dengan nama produk yang susah dibaca. Mungkin kalau makin susah dibaca, otomatis akan dianggap paling yahud efeknya di wajah.</p>
<p style="text-align: justify;">Usia itu tidak bisa dibohongi. Saat kita masih belasan tahun, tidak mungkin akan sama dengan ketika kita sudah menginjak angka duapuluh atau tigapuluh. Kelakuan saja yang mungkin masih bisa sama. Hehehe. Makanya saya sering tertawa sendiri ketika membaca promo sebuah tempat perawatan kecantikan yang bilang,</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Usia saya 42, tapi dikira 24&#8243;. </em></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>Yeah, right. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Kecuali kamu Nirina Zubir atau Andhara Early yang memang ditakdirkan memiliki wajah imut dan &#8216;muda&#8217; terus, tentu tidak mungkin lah usia empatpuluhan kok dikira masih duapuluhan. Siapa yang mau kamu bohongi? Dan ngapain juga mesti repot-repot menutupi usia? Misalnya ketika ulangtahun, perempuan pun paling sering enggan mengakui berapa usianya. Apalagi ketika mulai menginjak 25-an keatas. Katanya, sih. Hehehe. Biasanya, mereka pasti akan menjawab dengan bercandaan,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Oh, aku masih 17 tahun kok&#8230;&#8221; </em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kalau ada yang jawab dengan becanda model begini, biasanya saya akan komentarin singkat,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Ooo..  sisa umurnya 17 tahun, maksudnya mbak?&#8221;. </em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Hehehe. <span id="more-2197"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Eniwei, kenapa saya tiba-tiba ingin menulis tentang &#8216;menjadi tua&#8217; ini, sebenarnya karena hal yang sederhana. Kemarin sore, saya baru saja mengalami sebuah kejadian yang akhirnya membuat saya sadar, bahwa saya sudah (bertambah) tua. Jadi, kemarin itu, ketenangan di rumah saya terganggu karena ada suara keras yang mengenai jendela rumah. Saya kira ada ada apa. Ternyata itu adalah suara bola kaki yang ditendang oleh anak-anak kecil yang bermain di taman sebelah rumah saya, dan mengenai jendela rumah. Kebetulan, rumah saya memang bersebelahan langsung dengan taman perumahan yang memang sering dipakai bermain oleh anak-anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Oke, saya memang tidak suka dengan anak kecil. Belum, mungkin lebih tepatnya. Bisa dibayangkan bagaimana sebalnya saja ketika anak-anak kecil itu menendang bolanya dan mengenai jendela rumah saya? Ho ho hoo..  Belum tau siapa Oom Deka ya mereka. Seketika setelah bola itu untuk kedua kalinya mengenai dinding dan jendela rumah saya, pintu rumah langsung saya buka dengan keras. Tujuannya biar mereka kaget. Dan benar saja, mereka kaget melihat saya dan langsung kabur lari! Saya hanya diam sambil mengeluarkan tatapan tajam nan antagonis ala-ala sinetron. Sambil kemudian, saya ambil bola yang masih tertinggal di halaman saya, dan langsung saya bawa masuk ke dalam rumah. Iseng banget ya? <img src='http://ryudeka.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat setelah meletakkan bola di dalam rumah, saya langsung terdiam.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Well, God. This is ironic</em>. Saya masih ingat, dulu waktu saya kecil dan seusia dengan anak-anak itu, saya juga pernah melakukan hal yang sama. Main petak umpet atau main lempar-lemparan bola di dekat rumah orang, hingga bolanya mengenai (atau bahkan memecahkan) kaca jendela rumah orang tersebut. Dan ketika yang punya rumah keluar dan marah-marah, saya juga langsung kabur tanpa berani mempertanggung-jawabkan perbuatan saya. Sayalah anak-anak itu, puluhan tahun lalu. Anjirr, &#8220;puluhan&#8221;. Tua banget saya!</p>
<p style="text-align: justify;">Dan sekarang, sayalah &#8216;orang tua&#8217; itu. Orang tua pemilik rumah yang menakutkan itu. Ya. Posisi saya sudah berubah sekarang. Disinilah saya tersadar, saya sudah bertambah tu. Kita tahu bahwa kita bertambah tua ketika kita mengalami perubahan status atau posisi. Kamu pasti juga merasakannya. Ada kalanya kita dulu menjadi murid, tetapi kini ada yang menjadi guru yang mengajari.  Ada kalanya dulu kita menjadi orang yang di-training, tapi ada saatnya juga kita menjadi orang yang men-training. Ada kalanya kita dulu menjadi orang yang mengikuti lomba nyanyi, misalnya, tetapi ada kalanya kita sudah menjadi juri penentu kemenangan peserta lomba menyanyi tersebut. <em>Well, that&#8217;s what everyone called &#8216;circle of life&#8217;. </em>Dan saya tidak mau menjadi orang yang akan diingat oleh anak-anak itu sebagai Oom yang ganteng tapi galak.  *<em>halah* </em></p>
<p style="text-align: justify;">Sehinggak tak lama kemudian ketika anak-anak itu secara mengendap-endap kembali ke taman sebelah rumah untuk mencari bola mereka, saya hanya tersenyum geli. Kemudian saya ambil bola dari dalam rumah, saya buka pintu rumah saya untuk menemui mereka. Pertama, mereka lagi-lagi lari. Takut. Tetapi begitu keluar itu, saya tidak lagi menampakkan wajah sangar saya. Saya hanya tersenyum, dan saya panggil mereka.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Hey! Cari bola ya? Ini..&#8221;</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">sambil saya sodorkan kepada salah satu dari mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka pelan-pelan mendekat, dan menerima uluran bola dari saya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>Kalo main, kalo nendang, arahnya jangan ke arah rumah sini. Ke arah tembok sebelah sana aja, ya.. &#8220;.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Mereka pun mengangguk dan bilang, <em>&#8220;Makasih Oom..&#8221;. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Saya mengangguk.</p>
<p style="text-align: justify;">Tadinya saya mau berbasa-basi dengan,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Oom boleh ikutan main bola, gak?&#8221;.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tapi ya sudahlah ya. <em>Who am I kidding??</em>  Mungkin <em>next</em>, kalau mereka main masak-masakan aja saya ikutannya <img src='http://ryudeka.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ryudeka.com/?feed=rss2&#038;p=2197</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marketing Panci</title>
		<link>http://ryudeka.com/?p=2191</link>
		<comments>http://ryudeka.com/?p=2191#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 11:42:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ryudeka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ryudeka.com/?p=2191</guid>
		<description><![CDATA[Coba, bayangkan.  Bagaimana reaksi kamu misalnya saja di suatu siang yang panas, disaat kamu sedang asik-asiknya menikmati istirahat siang, tiba-tiba pintu kamarmu diketuk oleh seseorang. Dan ketika (dengan malas) kamu melangkahkan kaki untuk membuka pintu, begitu pintu dibuka, ternyata yang mengetuk pintu itu adalah&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. Mitha The Virgin?? Kalau saya, pasti akan bengong dengan suksesnya. Kok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Coba, bayangkan.  Bagaimana reaksi kamu misalnya saja di suatu siang yang panas, disaat kamu sedang asik-asiknya menikmati istirahat siang, tiba-tiba pintu kamarmu diketuk oleh seseorang. Dan ketika (dengan malas) kamu melangkahkan kaki untuk membuka pintu, begitu pintu dibuka, ternyata yang mengetuk pintu itu adalah&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. Mitha The Virgin??</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau saya, pasti akan bengong dengan suksesnya. Kok bisa-bisanya siang-siang panas begitu Mitha  bisa ada di depan pintu kamar saya? Tapi bengong saya itu akan segera sirna. Yang ada malah  saya akan cuekin saja si Mitha ini. Karena pertama, saya nggak ngefans sama sekali dengannya, yang kedua -dan yang lebih penting, saya kemudian akan lebih sibuk celingak-celinguk mencari-cari kamera tersembunyi di sekitar kamar saya itu. Jangan-jangan saya sedang dikerjain dan masuk dalam sebuah reality show. Kalau iya, kan saya jadi bisa lebih jaga imej dan penampilan saya. Bisa pura-pura akting kaget setengah mati karena didatengin artis (walau nggak ngefans sama sekali), kalau perlu sampai jatuh pingsan. Yaa namanya juga masuk TV.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu kalau saya. Kalau teman saya lain lagi. Kejadiannya hampir sama. Jadi pada suatu siang yang panas, pintu kamar kosnya diketuk. Biasanya kalau yang mengetuk pintu kamarnya ya kalau tidak teman-teman dari kamar-kamar sebelahnya, ya biasanya ibu kos. Entah itu menagih uang sewa atau sekedar tebar-tebar pesona saja. Sehingga dia tidak menduga ketika membuka pintu, yang ada di depan pintu kamarnya itu adalah &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; seseorang yang mirip Mitha The Virgin!!</p>
<p style="text-align: justify;">Bengong kah teman saya itu? Pastinya.  Ya siapa yang tidak akan <em>shock</em> ketika siang sepanas itu tiba-tiba ada perempuan dengan rambut emas dan anting-anting di berbagai bagian wajahnya &#8211; ya ala-ala Mitha The Virgin begitulah, ada didepan hidung kita? Kok bisa-bisanya dia ada disini? Apalagi kosnya termasuk kos yang tertutup dan tidak sembarang orang bisa masuk kedalamnya.  Dan yang membuat lebih <em>shock</em> lagi adalah ketika kemudian mbak-mbak (yang ingin terlihat) funky ini menawarkannya bergabung dengan program membership sebuah tempat hiburan malam. Jreenngg! Ternyata dia marketing tempat hiburan tersebut, sodara-sodara&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan main <em>cengok</em>-nya teman saya itu dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oke. Mari kita sok-sok-an berbicara tentang dunia marketing. Biar tulisan ini agak berbobot sedikit lah ya. Setiap perusahaan memang memiliki caranya masing-masing untuk memasarkan produkanya. Ada yang dengan cara biasa saja, ada juga yang ingin mencuri perhatian dengan cara yang diluar dugaan. Jujur, saya sih tidak menguasai tehnik marketing karena memang bidang saya bukan disitu. Saya disini hanya mencoba melihatnya dari kacamata saya sebagai konsumen saja. Konsumen yang rewel dan nyinyir, mungkin lebih tepatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Inti dari jualan itu apa sih? Tentu saja mendapatkan pembeli atau konsumen yang sebanyak-banyaknya. Termasuk tempat hiburan ini, mereka memilih untuk terjun langsung secara  <em>door to door</em> untuk menawarkan produknya. Mungkin dari hasil penelitian mereka, ya cara itulah yang paling efektif dibanding cara lainnya, semisal menyebar <em>flyer</em> di jalan raya. Mengganggu lalu lintas, mengotori jalan dan mengganggu pemandangan. Sehingga dengan cara <em>direct selling</em> mendatangi rumah-rumah (bahkan kos-kos) yang menjadi target konsumen mereka, adalah cara yang paling benar untuk menjual. Tetapi yang mereka lupa, mungkin tidak semua orang siap menerima konsep jualan mereka itu.  <span id="more-2191"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian banyak orang akan merasa tidak nyaman ketika tempat tinggal mereka didatangi oleh penjual. Apalagi yang dengan cueknya masuk hingga ke area kamar kos. Mungkin berlebihan jika kemudian saya menganggap apa yang mereka lakukan itu sebagai <em>invasion of privacy</em>, tapi sepertinya itulah yang dirasakan oleh teman saya itu. Sehingga saking bete dan <em>cengok</em>-nya itu, diapun segera menumpahkan kekesalannya itu melalui Twitter, yang kemudian dibaca oleh pihak klub hiburan malam tempat si mbak (yang ingin terlihat) funky itu bekerja. Singkat cerita, manajer tempat hiburan malam itupun merasa keberatan dengan &#8216;curahan hati&#8217; teman saya itu di Twitter karena dianggap &#8216;mencoreng nama perusahaan&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, dalam sebuah kesempatan, sang manajer itu berusaha meminta penjelasan, kenapa teman saya itu sampai segitu kesalnya dengan cara marketing mereka. Karena menurutnya,  <em>door to door selling</em>  itu bukan sesuatu yang aneh.</p>
<blockquote><p><em>“Cara jualan gitu kan wajar. Biasa aja.  Orang-orang yang jualan panci itu kan juga cara jualannya kayak gitu..”.</em></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Begitu pembelaannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Again</em>, saya bukan orang marketing, ya. Tetapi mendengar <em>statement</em> begitu, saya kok malah bingung.<em> I just didn&#8217;t get it</em>. Loe mau jualan membership apa mau jualan panci?? Setahu saya, tempat hiburan malam tersebut bukanlah tempat hiburan malam yang ecek-ecek. Berkelas, lah. Tetapi kenapa mereka lebih memilih mengadopsi cara berjualan ala tukang panci gitu, ya? Saya bukannya mencoba memandang sebelah mata profesi tukang panci dengan cara jualannya yang dari pintu ke pintu  itu ya. Menurut saya, tidak ada yang salah untuk itu mengingat produk yang dijual pun tidak membutuhkan cara <em>selling</em> yang heboh.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi ketika si tempat hiburan berkelas itu kemudian menganalogikan cara marekting mereka dengan cara marketing tukan panci dan menerapkan secara apa adanya, ya saya merasa aneh saja. <em>I mean, are you sure?</em> Brand perusahan kamu bagus, lho. Mahal. Bukankah cara promosi dan berjualannya itu juga harus bisa men-support nama brand kamu dan bukannya sebaliknya, membuat namanya menjadi jatuh? Oke, marilah kita kesampingkan sisi si mbak marketing yang tiba-tiba bisa nyelonong masuk ke dalam lokasi kos-kosan. Kata teman saya sih, si marketing itu ternyata masuk ketika salah satu teman kosnya ada yang membuka pagar karena akan mengeluarkan motor. Gesit sekali mbak itu. Tapi sudahlah, mari fokus kita pindah ke hal yang lebih simpel saja. Sisi penampilan.</p>
<p style="text-align: justify;">Begini. Dimana-mana memang banyak tempat hiburan yang memiliki sergama khas masing-masing, lengkap dengan tata rias dan gaya dandanannya sendiri-sendiri. Hampir semuanya sama, ingin tampil seheboh mungkin dan se-funky mungkin sesuai dengan imej yang dibuat oleh tempat mereka bekerja.  Itu hal yang wajar sekali,  selama hal itu dilakukan di malam hari,  ketika jam operasional mereka berjalan. Wajar lah ya. Dandanan gila-gilaan, namanya juga di tempat hiburan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi ketika tampilan itu kemudian dipaksakan di siang hari, di tempat-tempat umum dimana orang-orang yang notabene bukan konsumen hiburan malam juga ada, maka mereka pasti akan terlihat bodoh sekali. <em>Irritating</em>. Tidak pas. Percayalah, dandanan ‘funky’ ala Mitha itu HANYA pantas dilihat ketika kamu ada di dalam club di malam hari, di panggung, atau kamu memang sedang syuting FTV dengan judul &#8220;<em>Seandainya Aku Anggota The Virgin</em>&#8220;. Selebihnya, <em>you&#8217;ll look stupid. </em>Sehingga ya wajar kalau kemudian orang malah menjadi lebih cenderung bersikap pasif bahkan menunjukkan sikap &#8216;menolak&#8217; ketika didekati atau ditawari sesuatu. Bahkan ketika ditawari hadiah gratis sekalipun, mereka akan berpikir dua kali untuk menerimanya. Jangan-jangan abis ini gue disuruh ngapa-ngapain, nih. Begitu mungkin pikirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sih tidak menyalahkan atau mendiskreditkan siapapun disini. Hanya menyuarakan &#8216;ketidak-mengertian&#8217; saya terhadap cara berjualan tempat hiburan itu saja. Bukan salah, tetapi mungkin kurang pas saja. Beda lho ya. Ya siapa tahu, dari pemikiran saya yang apa adanya ini, bisa menjadi masukan juga buat mereka bahwa bagaimanapun cara berjualan itu ikut berpengaruh pada kekuatan brand perusahaan juga. Cara jualan loe &#8216;cantik&#8217;, otomatis akan mengangkat nama brand loe juga. Demikian juga sebaliknya. Sayang kalau brand yang sudah dijaga baik-baik, rusak hanya karena cara <em>selling</em> yang kurang pas.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya juga tidak menyalahkan teman saya itu yang terlalu jujur menumpahkan isi hatinya di Twitter. Walau seharusnya dia juga bisa bermain &#8216;cantik&#8217; ketika ngetwit. Jangan sebutkan brand-nya. Biarkan follower-nya menerka-nerka, dia sedang ngomongin brand apa. Lebih seru seperti itu, bukan? Hehehe. Atau kalau memang benar-benar merasa dirugikan, langsung saja <em>mention</em> ke akun Twitter perusahaan tersebut &#8211; kalau memang ada. Kalau brand itu memang brand yang bagus, tentu mereka akan memberikan tanggapan yang baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya semoga saja apa yang dipermasalahkan mereka berdua bisa selesai dengan baik-baik saja ya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, coba kalau saat itu saya jadi teman saya, begitu ada si mbak itu muncul di depan hidung saya dan menawarkan sesuatu, saya pasti hanya bilang,</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Ooh&#8230;  Mbaknya dari Club X. Udah minta ijin RT-RW setempat, belom? Ijin dulu, gih.. &#8220; </em></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">sambil memasang muka datar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia pasti bete dan langsung pergi. Sialan, udah dandan heboh kaya gini, dikira minta sumbangan&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Nah. Itu baru namanya main cantik! <img src='http://ryudeka.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ryudeka.com/?feed=rss2&#038;p=2191</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nothing is Permanent &#8230;</title>
		<link>http://ryudeka.com/?p=2179</link>
		<comments>http://ryudeka.com/?p=2179#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 03:06:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ryudeka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pencerahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ryudeka.com/?p=2179</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#8230; especially people. Stranger become friends. Friends become lover. Lover become strangers. Strangers become friends once more, and over and over.. ~ Megan McCafferty]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #008080;"><strong>&#8230; especially people. </strong></span><br />
<span style="color: #008080;"><strong>Stranger become friends.<br />
Friends become lover.<br />
Lover become strangers.<br />
Strangers become friends once more, and over and over..</strong></span><br />
~ Megan McCafferty</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ryudeka.com/?feed=rss2&#038;p=2179</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagu Galau</title>
		<link>http://ryudeka.com/?p=2166</link>
		<comments>http://ryudeka.com/?p=2166#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 12:04:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ryudeka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik & Lirik]]></category>
		<category><![CDATA[Penting & Tidak ...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ryudeka.com/?p=2166</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu kata yang &#8216;sangat 2011&#8242; lalu adalah &#8216;galau&#8217;. Entah darimana awalnya, tetapi kata ini memang harus diakui sering sekali terdengar setiap saat. Setiap dihinggapi perasan tidak enak, langsung bilang galau. Sedikit-sedikit galau. Padahal saya yakin, kata ini sudah lama sekali ada di dalam kamus bahasa Indonesia. Tetapi entah kenapa, dulu kalah pamor dengan kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Salah satu kata yang &#8216;sangat 2011&#8242; lalu adalah<strong> &#8216;galau&#8217;</strong>. Entah darimana awalnya, tetapi kata ini memang harus diakui sering sekali terdengar setiap saat. Setiap dihinggapi perasan tidak enak, langsung bilang galau. Sedikit-sedikit galau. Padahal saya yakin, kata ini sudah lama sekali ada di dalam kamus bahasa Indonesia. Tetapi entah kenapa, dulu kalah pamor dengan kata lain yang sebenarnya memiliki arti hampir sama, seperti<em> &#8216;gelisah&#8217;</em> atau<em> &#8216;gundah&#8217;</em>. Ya, mungkin ibarat pepatah, semua memang akan indah pada waktunya. Mungkin baru setahun belakangan inilah si &#8216;galau&#8217; ini bisa menikmati masa-masa popularitasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain kata &#8216;galau&#8217;, ada satu lagi yang sangat-sangat populer di tahun 2011 lalu, yaitu lagu <strong><em>&#8216;Someone Like You&#8217;</em></strong> yang dinyanyikan oleh penyanyi muda bernama <strong>Adele</strong>. Lagu tentang kegalauan seorang perempuan yang ditinggal menikah oleh pria pujaannya ini seolah menjadi <em>anthem</em> atau lagu wajib bagi semua orang yang sedang patah hati, dengan alasan apapun termasuk yang bukan karena ditinggal kawin oleh pacarnya sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai <em>mblenger</em> rasanya kalo mendengar lagu ini, bahkan dengan hanya mendengar intronya saja. Saking terlalu seringnya diputar dimana-mana. Bahkan ketika dulu saya masuk ke sebuah club, lagu ini pun juga dimainkan oleh DJ, dengan versi jedang-jedung! Owalahh. Entahlah, curiganya sih yang nyanyi lagu versi itu Neneng Anjarwati. Pengunjung pun ikut bergoyang dan bernyanyi. Sambil merem-merem juga. Antara menghayati atau sudah terlalu mabok, <em>hard to tell</em>. Tapi ini cukup membuktikan bahwa lagu ini begitu disukai, ya mungkin karena kentalnya nuansa &#8216;galau&#8217; lagu itu tadi. Seolah-oleh tidak ada lagu lain di dunia ini yang lebih galau dibandingkan lagu Adele itu. Adele mampu mewakili kesedihan seorang perempuan. Tidak ada lagu lagin yang bisa menandingi. Benarkah demikian?</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-2166"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja tidak. Mereka yang mengatakan hal tersebut diatas, tentu belum pernah hidup di era tahun &#8217;80-an. Belum pernah hidup di era dimana lagu-lagu galau  begitu merajalela. Oke, mungkin dulu sebutannya bukan lagu galau, tetapi lagu cengeng. Ini hanya masalah perbedaan istilah saja. Anggap saja demikian. Hehehe. Lagu dengan tema kegalauan yang sebagian besar disuarakan oleh perempuan itu begitu booming-nya, hingga laris sampai jutaan <em>copy</em>. Bukti bahwa lagu tema begini memang diminati oleh masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Makanya sempat heran juga kenapa Menteri Penerangan Harmoko dulu tega-teganya melarang dibuatnya lagu-lagu cengeng alias galau seperti ini dengan alasan lagu ini adalah bentuk &#8216;ratapan semangat berselera rendah&#8217;. Ih, jahat deh si bapak ini. Padahal kalau dia karaoke di rumah, pasti lagu-lagunya juga model beginian kan? Nggak yakin saya kalau dia nyanyi lagunya Van Halen atau Bon Jovi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali lagi ke lagu galau, kalau kamu termasuk yang meyakini <em>&#8216;Someone Like You&#8217;</em> adalah lagu paling galau sedunia karena berhasil menggambarkan perasaan hancur lebur seorang perempuan, mari saya perkenalkan dengan lagu  lama miliki penyanyi tidak terlalu terkenal bernama Lola Gembiraloka eh, <strong>Lola Pitaloka</strong> dan <strong>Prilly Priscilla</strong> berikut ini. Ya, namanya memang tipikal penyanyi era itu yang terdengar berima dan berulang. Adalah teman sana Ndut yang mengingatkan saya lagi bahwa di dunia ini pernah ada lagu yang luar biasa galau ini. Padahal dia ini sedang belajar di Amerika. Kok ya sempat-sempatnya bisa dapat lagu ini. Se-galau apakah lagu ini?</p>
<p>Coba, perhatikan liriknya. Perempuan mana yang tidak sedang dalam kondisi galau akut ketika menyanyikan lagu<strong><em><span style="text-decoration: underline;"> <a href="http://www.youtube.com/watch?NR=1&amp;feature=endscreen&amp;v=UbIhPfBsaoM" target="_blank">&#8220;Curiga</a></span>&#8220;</em></strong> ini :</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Malam ini kau pulang kantor, kulihat ada gincu merah di dasimu</em><br />
<em>Bau parfum beda yang sering kau pakai</em><br />
<em>Curiga, aku jadi curiga&#8230; </em></p>
<p><em>Seringkali kau buat alasan, terlambat pulang karena banyak pekerjaan..</em><br />
<em>Katanya kau rapat, katanya kau lembur, </em><br />
<em>Mengapa aku selalu percaya?</em></p>
<p><em>Didompetmu kutemukan sepucuk surat cinta, </em><br />
<em>Di sakumu ada karcic Bina Ria..</em><br />
<em>Di mobilmu aku temukan saputangan wanita,</em><br />
<em>Satu nama terukir disana.. </em></p>
<p><em>Katakanlah.. Sejujurnya.. Untuk apa kau bersandiwara</em><br />
<em>Sepandainya kau simpan dusta, akhirnya tercium juga.. &#8220;</em></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Gila ya. Sedih nggak sih? <em>*semua terdiam hening*</em></p>
<p style="text-align: justify;">Atau kalau kurang tragis,  coba bandingkan dengan yang kegalauan si perempuan di lagu<span style="text-decoration: underline;"><em><strong><a href="http://www.youtube.com/watch?v=KfBQLXDUJYQ&amp;feature=related" target="_blank"> &#8220;Kwitansi Biru&#8221;</a></strong></em></span> ini :</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Satu bulan dirimu mulai berubah, seringkali engkau pulang pagi</em><br />
<em>Bola matamu memerah, wajahmu pucat pasi..</em><br />
<em>Kemana? Tadi malam kemana?</em></p>
<p><em>Aku malu dilihat tetangga kita, malam minggu kau tak pernah ada dirumah</em><br />
<em>Sakit rasa telingaku  mendengar omongan orang</em><br />
<em>Jawablah, jangan banyak alasan..</em></p>
<p><em>Kutemukan di dalam tasmu, kwitansi berwarna biru</em><br />
<em>Tertulis  TV- Lemari untuk siapa?</em><br />
<em>Kutemukan sisir wanita ada rambut milik siapa? </em><br />
<em>Tak kau sadari ada di laci mobilmu..</em></p>
<p><em> Aku tak mau kau sakiti, apalagi sampai dimadu,</em><br />
<em>Wanita sedunia pun tak akan setuju&#8230;&#8221;</em></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>See</em>? Coba. Bayangkan kalau kamu adalah wanita itu, gimana nggak galau habis-habisan? Ibaratnya ngemil keripik pedas yang lagi hits itu, galaunya sudah sampai di level 10. Jadi, buat siapapun yang menganggap<em> &#8220;Someone Like You&#8221;</em> adalah lagu paling galau sedunia,<em> well&#8230;. think again!</em>   <em>*menghilang pelan-pelan*</em></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ryudeka.com/?feed=rss2&#038;p=2166</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Judulnya Judul-Judulan</title>
		<link>http://ryudeka.com/?p=2148</link>
		<comments>http://ryudeka.com/?p=2148#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 15:17:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ryudeka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ryudeka.com/?p=2148</guid>
		<description><![CDATA[Katanya, bumi itu berputar. Apa yang ada dibawah, kelak bergantian akan berada diatas. Begitu juga sebaliknya. Katanya lagi, apa yang ada sekarang ini adalah hanya pengulangan dari apa  yang pernah terjadi dahulu, hanya dengan &#8216;bungkus&#8217; yang berbeda. Dunia mode mungkin jadi media yang paling sering menampakkan ini. Trend fashion di era jaman dulu, bisa  berulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Katanya, bumi itu berputar. Apa yang ada dibawah, kelak bergantian akan berada diatas. Begitu juga sebaliknya. Katanya lagi, apa yang ada sekarang ini adalah hanya pengulangan dari apa  yang pernah terjadi dahulu, hanya dengan &#8216;bungkus&#8217; yang berbeda. Dunia mode mungkin jadi media yang paling sering menampakkan ini. Trend fashion di era jaman dulu, bisa  berulang menjadi trend kembali belasan atau puluhan tahun berikutnya. Dan ternyata, tanpa disadari, pengulangan itu sepertinya juga terjadi di dunia sinetron kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Wuidihh. Jauh bener ya kayaknya. Dari dunia mode kok ke dunia sinetron. Nggak apa-apa lah ya. Ide tulisan ini muncul akibat luangnya waktu saya di dua hari ini karena harus bed rest di rumah, sehingga yang saya lakukan selain makan, tidur dan mainan BlackBerry dan iPad adalah menonton TV yang &#8211; <em>oh my God</em>, isinya luar biasa membosankan itu. Bersyukurlah kita yang dari jam 9-5 berkutat dengan pekerjaan di luar rumah, bagaimanapun membosankannya itu, karena kita tidak terjebak menonton aneka program infotainment (yang isinya sama semua) dan program film televisi (FTV) yang ceritanya juga saling mirip satu sama lainnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi dimana pengulangan yang saya maksudkan di awal tulisan itu tadi?</p>
<p style="text-align: justify;">Pada judul-judul FTV tersebut. Masih ingat di awal tahun 2000-an dulu? Waktu itu Indonesia sedang booming sinetron-sinetron bernuansa agama yang dikenal dengan istilah sinetron religi. Yang mempelopori dulu kalau tidak salah adalah stasiun TPI dengan serial<strong> &#8220;Rahasia Ilahi&#8221;</strong>-nya. Setiap episode, serial ini selalu memiliki judul-judul yang menggelikan, yang membuat siapapun yang membacanya akan berkata, &#8220;Ya ampun&#8230;&#8221;. Semisal : <em>&#8220;Ditolak Kubur Karena Durhaka&#8221;, &#8220;Tubuh Melepuh Karena Selingkuh&#8221; , &#8220;Jenazah Terbawa Banjir Akibat Tidak Pernah Bersedekah&#8221;</em> dan lain sebagainya. Pokoknya semua judul yang dengan sekali baca saja, kita sudah tahu isi cerita sinetron itu secara keseluruhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, saya (dan mungkin kamu) juga sempat gatal karena penasaran, mengapa mereka bisa se-asal itu membuat sebuah judul? Jawaban yang saya dapat waktu itu ada 2 : karena cerita-cerita sinetron itu memang diambil dari cerita (yang katanya nyata) dari majalah-majalah religi, dan karena memang dengan judul seperti itu mampu menarik perhatian pemirsa stasiun televisi  itu yang notabene berasal dari kalangan menengah kebawah. Saya sih sebenarnya tidak menerima begitu saja kedua alasan itu,kesannya kok merendahkan intelegensia status sosial sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi ya sudahlah ya. Kok ya sepertinya luang sekali waktu saya memikirkan hal beginian. Toh tidak lama kemudian, trend sinetron model-model begini pun tidak bertahan  lama karena memang lama-lama banyak yang memprotes dengan alasan sinetron tersebut lebih berbau mistis daripada unsur agamanya.Hanya karena di akhir sinetron ada &#8216;wejangan&#8217; dari pemuka agama, bukan berarti sinetron itu berhak menyandang status sinetron religi ya. Dan justru mungkin karena itu juga penonton malah bete. Sudah asyik-asyik terhibur nonton sinetron, eh dibelakangnya masih harus diceramahin!<span id="more-2148"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Siapa sangka kalau &#8216;trend&#8217; itu kemudian muncul lagi di setahun belakangan ini? Bukan sinetron religi, tepatnya. Tetapi melalui tayangan film televisi dengan judul-judul yang &#8216;ya ampun&#8217; itu tadi. Kali ini yang memulai adalah stasiun SCTV dengan program FTV-nya itu. FTV adalah sinetron lepas atau non serial yang dibuat dengan format film dengan durasi 120-180 menit. Jadi sinetron &#8220;Putri Yang Ditukar&#8221; yang walau  berdurasi hampir 3 jam itu tetap tidak masuk dalam kategori FTV ya. Nah, sudah pernah tertawa (dengan nada prihatin) saat membaca judul-judul dari FTV tersebut? Hampir semuanya tidak ada yang &#8216;indah&#8217; ya&#8217;. Sama seperti dengan judul sinetron religi dulu itu : dibuat apa adanya dan terkesan asal bikin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari akun twitter @FTV_SCTV yang saya pantau (busett, segini luangnya waktu saya!), berikut ini adalah judul-judul FTV yang sudah pernah tayang di stasiun televisi tersebut :</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Juragan Toilet Jatuh Cinta</li>
<li>Cinte Dalam Sepotong Roti Buaya</li>
<li>Andai Lala = Julia Robert</li>
<li>Cinta Kena Batunya</li>
<li>Tikus Kucing Mencari Cinta Lagi</li>
<li>Cinta Babak Belur</li>
<li>Tukang Parkir Cinta</li>
<li>Baby Baby Cukuplah Sudah</li>
<li>Diburu Teller Teller</li>
<li>Jelita Tak Sejinak Merpati</li>
<li>Cinta Lewat Sepiring Nasi Uduk</li>
<li>Secantik Hati Sejelek Bodi 2</li>
<li>Delman CInta Di Kota Kembang</li>
<li>Cinta Dalam Sebungkus Kacang Telor</li>
<li>Juragan Toilet Umum Jatuh Cinta</li>
<li>Cinta Via Kerupuk Blekok</li>
<li>Awas Jaga Jarak! Cinta Datang Mendadak!</li>
<li>Pacarku Bukan James Bond</li>
<li>I Love You Juminten</li>
<li>Bad Marsha Good Minah</li>
<li>Jangan Deportasi Cintaku</li>
<li>Romantika Cinta di Pasar Kambing</li>
<li>Ada Cinta Di KampungKambing</li>
<li>Cantik Cantik Kok Jadi Pembokat</li>
<li>Kalau Cinta Jangan Merki</li>
<li>Pulang Malu Nggak Pulang Rindu</li>
<li>Satu Cinta Beda Rasa</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">dan masih banyak lagi judul ajaib lainnya yang tidak mungkin saya tuliskan disini. <em>Gilo</em> sendiri, sayanya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Memang, katanya sih jangan pernah menilai kualiatas buku dari judulnya. Demikian juga FTV-FTV ini. Mungkin judulnya memang <em>kamseupay</em> kalau kata Marissa Haque. Tapi kualitasnya? Ya belum tentu juga. Toh banyak juga aktris-aktor berbakat yang kemudian bisa sukses karena mengawali karirnya di FTV seperti Rio Dewanto dan Prisa Nasution yang kemarin mendapatkan piala Citra untuk film &#8220;Sang Penari&#8221;. Ya kalau ini sih mungkin memang bawaan orangnya aja yang memang punya kualitas akting yang bagus.</p>
<p style="text-align: justify;"><em></em>Walau katanya (lagi) program ini banyak peminatnya. Terbukti belum lama ini SCTV  sampai sempat-sempatnya mengadakan &#8220;FTV Award 2011&#8243; dimana judul <em>&#8220;Papi, Mami dan Tukang Kebun&#8221;</em> mendominasi penghargaan itu. Mungkin dengan adanya fenomena ini,  tahun depan pemerintah bisa mempertimbangkan untuk menambahkan 1 hari besar Nasional lagi. Kalau ada Hari Perfilman Nasional, kenapa tidak ada Hari Persinetronan Nasional juga toh? Dibikin jadi tanggal merah pula, misalnya.  Lumayan toh, buat nambah-nambah libur. Nah, di tanggal itu, seharian semua televisi menayangkan sinetron. Selama 24 jam nonstop.</p>
<p style="text-align: justify;">Err. <em>No. No.</em> Ide buruk. Lupakan saya pernah mengeluarkan ide ini ya. Ya sudahlah. <em>Next time</em> kalau kamu ketemu dengan judul FTV yang lebih ajaib lagi, jangan lupa kabari saya yah!</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ryudeka.com/?feed=rss2&#038;p=2148</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>How Can I Not Love Her?</title>
		<link>http://ryudeka.com/?p=2141</link>
		<comments>http://ryudeka.com/?p=2141#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 04:43:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ryudeka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Romansa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ryudeka.com/?p=2141</guid>
		<description><![CDATA[Suara roda kereta terdengar bergemuruh. Menit demi menit berlalu, sejak kutinggalkan Stasiun Bandung menuju ke Jogjakarta. Perasaanku galau. Ada getaran yang susah untuk kujelaskan dengan kata-kata. Berharap semoga kereta akan berjalan lebih lambat dari biasanya, agar tidak tepat waktu ia menginjakkan kaki di Stasiun Tugu tujuanku. Kunyalakan iPod, memainkan layarnya dengan kedua tanganku. Memandang baris [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suara roda kereta terdengar bergemuruh. Menit demi menit berlalu, sejak kutinggalkan Stasiun Bandung menuju ke Jogjakarta. Perasaanku galau. Ada getaran yang susah untuk kujelaskan dengan kata-kata. Berharap semoga kereta akan berjalan lebih lambat dari biasanya, agar tidak tepat waktu ia menginjakkan kaki di Stasiun Tugu tujuanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kunyalakan iPod, memainkan layarnya dengan kedua tanganku. Memandang baris demi baris judul lagu yang ada didalamnya tanpa ada satupun yang kutekan untuk kemudian kuputar dan kudengarkan.  Tidak ada yang menarik.  Sampai kemudian kualihkan pandanganku ke bangku yang ada dihadapanku. Sepasang suami istri yang sudah berumur terlihat duduk dengan tenang. Tidak banyak yang yang mereka lakukan. Sang suami sedang membaca sebuah buku biografi seorang tokoh politik bernama asing yang tidak kukenal.  Sesekali terlihat sang istri merebahkan kepalanya di pundak lelaki yang duduk disebelahnya. Bergelayut manja. Sesekali terbatuk-batuk. Sang suami ikut berdehem seolah ingin membantu agar batuk istrinya itu hilang.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Kereta terus bergerak. Ciamis dan Tasikmalaya sudah terlewati. Semakin mendekati Jogja, perasaanku semakin gelisah. Seperti ada perasaan takut yang kualami ketika kecil dulu. Takut untuk kembali ke rumah setelah sebelumnya mendapat hukuman di sekolah oleh guru akibat tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Semacam itulah. Padahal tidak ada sebuah kesalahan yang kuperbuat untuk dapat memunculkan rasa takut. Berbagai perubahan posisi duduk yang kulakukan dalam waktu singkat, seperti menarik perhatian lelaki tua itu. Ia melihat kearahku dengan pandangan heran tanpa berkata-kata.  Sempat sesaat pandangan kami beradu, tetapi tidak kubiarkan terjadi terlalu lama. Aku tidak berada dalam suasana ingin berbincang dengan siapapun. Tidak saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kereta terhenti sejenak. Terlihat tulisan &#8220;Stasiun Banjar&#8221; diluar sana. Tiba-tiba sang istri mengeluarkan sebuah tempat minum yang terbuat alumunium dari dalam tasnya. Membukanya dan bisa kucium aroma Jahe dari dalamnya. Diserahkannya sesaat kepada sang suami untuk dipegangkan terlebih dulu.  Kemudian dikeluarkannya lagi dua buah gelas mungil dari dalam tas yang sama. Sesaat timbul rasa penasaranku, ada apa saja didalam tas kulit berwarna cokelat muda itu. Tetapi perhatianku itu kemudian terhenti ketika perempuan itu menawarkan gelas yang sudah terisi air Jahe kepadaku.</p>
<blockquote><p><em>“Ayo. Lumayan buat anget-anget..”</em></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">katanya sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuterima gelas itu dan kuucapkan terimakasih. Kutiup air didalam gelas yang masih mengepulkan asap panas itu. Kuteguk sekali, kubiarkan hangatnya mengalir kedalam tenggorokanku. Berharap semoga mampu meredam rasa gelisah didalam batinku yang tidak kunjung berhenti itu. Tubuhku memang terasa menghangat. Tetapi tidak dengan otakku. Gelisah ini ternyata butuh lebih dari sekedar secangkir Jahe hangat untuk meredakannya.<span id="more-2141"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya Kebumen.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah setengah lebih perjalanan ini kulalui, dan  ini terasa menyiksa sekali. Ingin rasanya aku meminta kepada masinis untuk membalikkan arah kereta dan kembali ke Bandung. Tetapi tidak mungkin. Kereta akan tetap berjalan hingga tujuan. Yang dapat kulakukan hanyalah berdoa semoga ada keajaiban yang bisa merubah keraguan hatiku. Itu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Lelaki tua di hadapanku itu menawarkan buku yang tadi dibacanya itu padaku. Mungkin sudah selesai dibacanya. Kugelengkan kepalaku sambil mengucapkan terima kasih. Ia hanya tersenyum dan kemudian meletakkan buku tebal itu di meja yang ada disampingnya.<br />
Satu demi satu kalimat-kalimat kemudian muncul dari bibirnya, disampaikannya dengan perlahan kepada istrinya. Sesekali mereka terlihat mengulang perkataan mereka. Bisa jadi karena  keterbatasan pendengaran mereka, bisa jadi karena suara mereka berpacu dengan suara roda kereta yang terdengar lebih keras. Sesekali juga sang istri tersenyum terkekeh karena mungkin baru menyadari bahwa sang suami baru saja menceritakan sesuatu yang lucu. Demikian pula sebaliknya. Aku hanya ikut tersenyum saja karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba saat sang suami mengulurkan beberapa butir obat yang diambil dari saku jaket kulitnya beserta segelas air mineral kepada sang istri. Sang istri membalas dengan senyum, lalu memegang halus paha suaminya. Tanpa diminta, lelaki tua itu tiba-tiba berkata lembut.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>“Puluhan tahun kami menikah, bapak tidak seterusnya bahagia, Mas. Bapak tidak selalu tersenyum . Tetapi perempuan yang disebelah bapak ini selalu bisa membalik hari, dari yang buruk menjadi baik. Apa yang buruk dari bapak, dia bisa menerimanya. Apa yang baik dari bapak, dia bisa mengubahnya menjadi sangat baik. Jadi coba tolong katakan pada bapak, bagaimana mungkin bapak tidak sesayang ini kepada dia? “</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Suara lelaki tua itu semakin lama semakin terdengar parau dan tercekat. Dipandanginya wanita disampingnya itu. Sedikit bisa kulihat  kilau air di sudut matanya. Dia seperti akan menangis. Seperti haru bahagia karena akhirnya bisa menemukan dan menyelesaikan kalimat-kalimat yang tepat untuk menggambarkan kebesaran cinta yang dimiliki oleh perempuan di sebelahnya. Sementara si perempuan terlihat semakin mempererat genggaman tangannya di lengan suaminya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Mataku sontak memanas melihat pemandangn di hadapanku itu. Tuhan, indah sekali Kau ciptakan apa yang kulihat ini. Tanpa bisa berkata apa-apa, aku kemudian memalingkan pandanganku ke luar jendela kereta. Aku tidak ingin melihat lebih lama lagi. Aku bisa menangis. Kubiarkan mereka berdua larut dalam dunianya, dan kubenamkan diriku dalam duniaku sendiri. Kupejamkan mata semampuku. Hening.</p>
<p style="text-align: justify;">Stasiun Tugu. Akhirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai juga kereta ini di stasiun dengan para Andong yang siap menyambut di halaman depannya. Kuregangkan kedua tanganku. Tidurku yang hanya beberapa belas menit ternyata cukup mampu membuat kegelisahanku selama perjalanan tadi menghilang.<br />
Kulihat pasangan lelaki dan perempuan tua dihadapanku ini masih tertidur pulas.</p>
<blockquote><p><em>“Bapak.. nuwun sewu, sudah sampai&#8230;”.</em></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kutepuk kedua tangannya yang terlipat di dadanya. Lelaki tua itu membuka matanya dengan berat. .</p>
<blockquote><p><em>“Wes tekan Jogja tho, Mas?”</em></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">tanyanya padaku. Kuanggukkan kepalaku, sambil kemudian mengambil beberapa tas untuk segera kubawa turun. Sambil mataku sesekali tetap mencuri pandang ke pemandangan disampingku. Kulihat lelaki tua itu membungkukkan badannya dan membisikkan sesuatu ke telinga perempuan yang masih terlelap di bangku yang ada di sampingnya. Perempuan itu terbangun, tersenyum dan kemudian membenarkan posisi duduknya, merapikan beberapa bagian pakaiannya yang terlipat kusut dan bersiap untuk berdiri. Dipegangnya tangan suaminya untuk membantunya berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa bisa kutahan, kuletakkan tas-tas yang sudah kupegang hingga berdentum bunyinya beradu dengan lantai kereta.  Kupeluk keduanya. Tak kuasa aku menangis. Dengan sisa nafas yang tersisa, diantara isak tangis tertahan, ku mohonkan doa restu dari kedua malaikat dihadapanku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada lagi yang bisa menenangkanku melewati akad nikah yang akan segera kulakukan keesokan hari selain bekal kekuatan doa dari mereka untuk aku, anak lelaki bungsunya.Semoga mereka tahu, betapa sepenuh hati ingin kuucapkan terimakasih pada mereka atas indahnya cinta kasih yang telah mereka tunjukkan kepadaku selama ini. Cinta yang sudah menuntunku hingga ke saat ini, cinta yang sudah mengantarkanku untuk segera memulai perjalanan hidupku yang baru  dengan kekasih yang telah dipilihkan Tuhan untukku. Di kota ini.</p>
<p style="text-align: right;"><strong><em>~ ditulis untuk project #IHeartJogja<br />
Inspired by my Mother&#8217;s unconditional love to her husband.<br />
Thank you for showing me how to love, Mom..<br />
</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ryudeka.com/?feed=rss2&#038;p=2141</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diary Beckham</title>
		<link>http://ryudeka.com/?p=2134</link>
		<comments>http://ryudeka.com/?p=2134#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 14:35:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ryudeka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penting & Tidak ...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ryudeka.com/?p=2134</guid>
		<description><![CDATA[Dear Diary, Hari ini aku senang sekali, akhirnya bisa sampai di Indonesia. Walau badan pegal-pegal karena perjalanan Amrik-Indonesia yang lebih dari 19  jam, tetapi senang karena aku bisa mengunjungi Indonesia lagi. Sebelumnya sih aku udah pernah datang buat menginap di Amanjiwo yang didekat Borobudur itu. Tetapi ini beda. Kalau dulu hanya berdua dengan istri, sekarang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Dear Diary,</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Hari ini aku senang sekali, akhirnya bisa sampai di Indonesia. Walau badan pegal-pegal karena perjalanan Amrik-Indonesia yang lebih dari 19  jam, tetapi senang karena aku bisa mengunjungi Indonesia lagi. Sebelumnya sih aku udah pernah datang buat menginap di Amanjiwo yang didekat Borobudur itu. Tetapi ini beda. Kalau dulu hanya berdua dengan istri, sekarang aku datang bareng-bareng dengan tim LA Galaxy. Kalau dulu datangnya diam-diam biar nggak tercium oleh media dan paparazzi, nah yang sekarang malah kebalikannya. Kedatangan kita justru sebisa mungkin tercium oleh sebanyak mungkin media. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sebelum mendarat di Jakarta, manajer kami sudah sempat memberikan pengumuman, bahwa yang akan menyambut kami di hotel adalah seorang penyayi wanita yang sedang populer di Indonesia. Aku tidak terlalu mengingat siapa namanya, karena namanya termasuk sulit diucapkan. Manajer kamipun terlihat keriting mulutnya saat mengucapkan nama penyanyi itu. Tapi sudahlah, katanya. Apalah arti sebuah nama. Yang penting prestasinya di dunia musik. Tapi ketika kutanya apa prestasinya di dunia musik, manajerku itu hanya menggeleng. Katanya, di CV yang diterimanya, si penyanyi itu terakhir tampil berduet dengan seekor kuda di panggung acara musik. Itu  update prestasi terakhir yang didapatkannya.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ah, aku makin tidak tertarik dengan penyanyi itu. Karena saat itu, fokus aku tentu saja bagaimana sesegera mungkin sampai di hotel, supaya bisa segera selonjoran dan menelepon Victoria dan anak-anak. Ah, sayang sekali mereka tidak bisa ikut serta di trip ku kali ini. Anak-anak sedang ujian caturwulan, dan Victoria sedang latihan koreo untuk reuni Spice Girls di 2012. Iya, mereka akan reuni lagi. Mungkin mereka adalah satu-satunya grup di dunia yang hobinya bubar-reuni-bubar lagi-reuni lagi. Kali ini mereka akan segera comeback ke dunia musik, dan sepertinya mereka merasa terintimidasi dengan kehadiran girlband-girlband Korea  yang suaranya sebenarnya 11-12 dengan grup istriku itu.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span id="more-2134"></span>Akhirnya aku sampai di bandara. Kami dijemput oleh panitia  dan segera dilarikan ke hotel tempat kami menginap. Well, Aku suka Indonesia. Kami disambut dengan sangat ramah. Biasanya ketika tiba di suatu negara, kita akan disambut oleh gadis-gadis lokal yang cantik dan masih muda,  lengkap dengan busana tradisionalnya. Kali ini lain sekali. Entah apa pertimbanganya hingga panitia lokal menyuruh seorang perempuan paruh baya itu untuk menyambut kami. Sekilas ketika aku melihat busananya, sepertinya itu bukan busana nasional. Lebih mirip seperti busana seorang sekretaris.Tetapi entah sekretaris kantor mana yang  pakaiannya seperti ini. Buset sekali.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Demikian juga dengan tatanan rambutnya. Bagian depannya membumbung tinggi. Aku heran, apakah memang begini dandanan gadis-gadis Indonesia dalam kesehariannya? Jika memang iya, sangat menggelikan sekali ya. Ah tapi sudahlah, aku sendiri tidak terlalu memperhatikan perempuan yang memberiku kalungan bunga itu. Walau dia sempat memegang-megang dan mencium pipi, tapi jujur aku sudah tidak perduli apapun. AKu sudah sangat mengantuk. Aku hanya berusaha bersikap ramah pada semua orang bagaimanapun lelahnya aku. Apalagi mengingat pesan yang disampaikan oleh manajerku sebelumnya itu. Aku iba pada perempuan dihadapanku ini. Setelah mencium kuda, kubiarkan dia menikmati saat-saat mencium pipiku. Dia pasti bangga luar biasa. Dari kuda ke David Beckham. Sebuah lonjakan karir yang amat dahsyat. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tapi aku kecewa. Kedatanganku di Indonesia ini sepertinya sia-sia. Ketika keesokan harinya sebelum acara soccer clinic, aku menonton televisi di kamar hotel, aku bingung, kenapa setiap kali ada berita tentang aku, perempuan berjambul aneh itu selalu ada? Aku tidak tahu apa isi berita itu karena menggunakan bahasa Indonesia, tetapi menurut panitia lokal, media memang akhirnya lebih heboh memberitakan dandanan perempuan itu daripada kegiatanku di Indonesia. Tentang rambut jambulnya, dan tentang bulu matanya. Katanya aku terpesona karenanya. Ah, seandainya media-media itu tahu perasaanku sesungguhnya ya..</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sesungguhnya ketika aku membisikkan sesuatu di telinganya, aku bukanlah sedang mengagumi gaya dandanannya itu. Tetapi aku berbisik lirih bertanya, </em></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Miss.. Are you okay?&#8221;.</em></p>
</blockquote>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align: justify;">
<dl id="attachment_2135" class="wp-caption aligncenter" style="width: 158px;">
<dt class="wp-caption-dt"><em><a href="http://ryudeka.com/wp-content/uploads/2011/11/Syahrini-Jambul-dalam1.jpg"><img class="size-medium wp-image-2135" title="Syahrini-Jambul-dalam" src="http://ryudeka.com/wp-content/uploads/2011/11/Syahrini-Jambul-dalam1-236x300.jpg" alt="" width="148" height="189" /></a></em></dt>
<dd class="wp-caption-dd">dari detikhot</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align: justify;"><em>Karena aku sungguh-sungguh khawatir melihat dandanannya. Dia terlihat seperti orang yang menahan nafas seharian agar bisa muat di baju itu. And it&#8217;s not healthy at all! Bahkan aku sangat khawatir ada bagian dari tubuhnya yang akan meledak, dan tentu saja aku tidak mau itu terjadi ketika aku ada didepannya! Hell no! Tidak setelah aksi peremasan kemaluanku beberapa waktu lalu itu! Jadi salah kalau media lokal memuat berita bahwa aku mengagumi kecantikan perempuan itu. Aku khawatir akan keselamatanku. Itu yang benar. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tapi sudahlah. Di keluargaku selalu diajarkan untuk membuat orang lain senang. Jika memang kehadiranku bisa ikut membantu si perempuan berjambul aneh itu lebih menanjak lagi popularitasnya, tidak apa-apa. Kadang  orang memang suka berbuat bodoh hanya demi menaikkan popularitas mereka, itu wajar. Aku belajar dari istriku. Dia dulu juga pernah bela-belain tampil bodoh di film &#8220;Spice World&#8221;. Film ini mendapat rating 2 dari 10 dan dinobatkan sebagai salah satu film terburuk sepanjang masa. Tapi toh istriku tetap bangga dengan film itu. Karena memang hanya itu satu-satunya film layar lebar yang dibintanginya. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Yang lebih gila, ada headline di sebuah infotainment yang mengatakan bahwa aku tertarik dan mengejar-ngejar perempuan itu. Well, itu juga ngawur sekali. Aku memang menyukai penyanyi bersuara pas-pasan tetapi pintar berdandan seperti istriku. Tapi bukan berarti akupun lantas tertarik dengan perempuan berjambul itu, bukan? Ah, ada-ada saja media di Indonesia ini. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Oke deh, udah dulu ya diary. Aku harus tidur dulu. Besok aku harus bertanding melawana tim lokal. Semoga saja perempuan berjambul aneh itu tidak mengikutiku lagi. Aku takut&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ryudeka.com/?feed=rss2&#038;p=2134</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diary Syahrimin</title>
		<link>http://ryudeka.com/?p=2121</link>
		<comments>http://ryudeka.com/?p=2121#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 09:39:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ryudeka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penting & Tidak ...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ryudeka.com/?p=2121</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum, diary akuh.. Aduh, akuh seneng banget deh! Hari ini akuh akhirnya bisa bikin siapapun yang menang kontes putri-putrian dan miss-missan itu iri setengah mampus! Gimana enggak? Bukannya mereka yang diminta buat menyambut kedatangan David Beckham di Indonesia, tapi akuh! AKUH! Sesuatu banget kan yah? Padahal kalo dibandingin sama mereka, badan akuh kan kalah tinggi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Assalamualaikum, diary akuh..</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aduh, akuh seneng banget deh! Hari ini akuh akhirnya bisa bikin siapapun yang menang kontes putri-putrian dan miss-missan itu iri setengah mampus! Gimana enggak? Bukannya mereka yang diminta buat menyambut kedatangan David Beckham di Indonesia, tapi akuh! AKUH! Sesuatu banget kan yah?</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Padahal kalo dibandingin sama mereka, badan akuh kan kalah tinggi tuh. Putri Indonesia yang baru aja -yang akuh lupa siapa namanya itu, tingginya katanya 175 sentimeter. Makanya pertamanya akuh panik juga loh waktu ditawarin sama panitia buat ngasih karangan bunga buat Becks sama teman-teman satu timnya. Eh. Kok karangan bunga sih? Rangkaian bunga! Karangan bunga mah buat orang mati atuh yah. Aduh, maafkeun salah tulis ini mah. Nggak apa-apa lah yah salah ngomong di diary sendiri, nggak ada yang tau. Yang nggak boleh itu kalo bikin statement yang ngasal di depan publik. Alhamdulilah subhanallah yah, akuh bukan tipe yang seperti ituh.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Abis ditawarin gitu, ya akuh sama manajemen akuh langsung mau ajah. Abis kapan lagi bisa bikin berita, coba? Lagu akuh aja belum keluar lagi. Kemarin sempat bikin single religi sama Pasha Ungu, enggak booming. Sebel deh. Abis Ramadhan-nya cuma sebulan sih. Jadi ya nggak maksimal promonya. Nyoba bikin berita lewat busana ala sekretaris juga nggak seheboh waktu akuh dandan ala kaftan sebelumnya. Uugh. Apa mungkin karena pas itu akuh lagi gendut-gendutnya yah, jadinya orang malah pada males pake baju ala sekretaris itu. Ah, tapi udahlah yah. Diambil hikmahnya aja.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Hari itu juga akuh langsung bikin rapat mendadak sama tim akuh. Kita yakin, ini kesempatan besar. Nggak semua artis punya kesempatan kayak gini. Kita berpikir keras banget, gimana caranya supaya akuh bisa kelihatan oke waktu satu frame dengan David Beckham. Jangan sampai yah akuh malu-maluin bangsa Indonesia, karena kan gimana-gimana juga ini berarti akuh membawa nama bangsa kan? Kalau akuh tampil sempurna, bisa membawa nama Indonesia ke tingkat internasional. Akuh bisa masuk liputan TV-TV luar negeri gituh, tanpa perlu harus repot-repot pindah ke luar negeri, syuting sinetron di luar negeri atau jadi penerima tamu di acara American Music Awards kayak penyanyi siapa itu? Iya kan? Cukup persiapan tampilan yang hebat, udah deh.. langsung akuh akan menginternasional dengan sendirinya. Wuihh, hebat banget emang pemikiran akuh ini mah!</em></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-2121"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Akhirnya di meeting kita sepakat, yang harus dipikirkan adalah gimana caranya supaya akuh bisa tampil sejajar dengan Beckham. Pokoknya gimana caranya supaya kalo diliput TV  (eh, kok &#8216;kalo&#8217; sih? Pasti diliput sih yah. Kan akuh udah punya langganan infotainment yang udah akuh bayar buat ngeliput semua kegiatan akuh..), muka akuh sama muka Beckham bisa keliatan sejajar, sama-sama masuk kelihatan di layar. Beckham kan katanya tinggi banget, tuh.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Makanya kemudian tim make-up akuh usul, satu-satunya cara biar kelihatan tinggi dan sejajar dengan Beckham ya bikin jambul yang tinggi! Soalnya kata mereka, kalo mau disiasatin dengan pakai heels yang tingginya 35 sentimeter, takutnya akuh nanti jatuh. Kan akuh lagi chubby-chubby-nya nih!  Ya udah lah yah, akuh sih percaya aja apa kata manajemen dan tim make-up akuh. Toh kan selama ini, mereka selalu berhasil membuat apapun yang akuh pakai bisa jadi perbincangan dimana-mana. Taste fashion mereka memang selalu selangkah lebih maju dibanding tim fashion artis-artis lain.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Makanya, jadilah pas hari H, pagi-pagi banget \sebelum menyambut Beckham sama timnya di hotel Ritz Carlton, akuh udah stand by dandan dari jam 4 subuh! Butuh waktu 4 jam lebih loh untuk bener-bener siap semuanya. Sebenernya sih, ini rahasia yah, tapi waktu yang dibutuhin buat bikin jambul kayak gitu sih gampang banget. Tinggal pasang roll, dikasih mousse sama hair spray, trus dikipas-kipas juga udah kelar. Yang lama itu sebenernya adalah waktu buat akuh ngapalin teks!</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Teks? Iyah. Teks . Beckham kan kalo ngomong pake bahasa Inggris tuh. Mau nggak mau buat menyapa dia juga harus pakai bahasa Inggris juga dong. Masa pake bahasa banci? Tinta lah. Sementara kan menurut para fans akuh, ketika akuh ngomong sesuatu dalam bahasa Indonesia di Twitter ajah mereka sering bingung bacanya. Apalagi kalo akuh ngomong pake bahasa Inggris? Makanya akuh wanti-wanti ke manajer akuh, minta supaya dibuatin kalimat-kalimat sapaan dan basa-basi dalam bahasa Inggris buat akuh hafalin. Nah, itu yang bikin lama.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Masalahnya, akuh tuh memang paling males kalau disuruh ngapalin. Ngapalin lirik lagu aja akuh sering kesusahan. Untung kalo tampil di TV masih boleh lipsync. Nah ini, ngomong bahasa Inggris langsung sama orang bule. Duh. 2 jam lebih tuh yah, sambil didandanin, akuh cuma bisa ngapalin “Welcome to Indonesia, mister Becks!” sama “Hey, my name is Syahrimin. I’m very famous here” aja! Putus asa deh. Tapi karena panitia udah ngeburu-buru akuh supaya segera turun kebawah karena rombongan udah dateng, ya sudahlahah ya. Aku pasrah. Lillahita’ala. Semoga aja nanti pas ketemu, David Beckham lebih fokus ke dandanan akuh aja daripada dengerin omongan akuh.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Diary, kamu tau gag.. Ternyata Beckham itu ganteng banget! Pas pertama masuk hotel sih, mukanya keliatan capek banget. Tapi begitu liat akuh, mukanya berubah gitu deh. Jadi kayak kaget, heran dan terkesima gitu! Akuh? Ih, jangan ditanya&#8230; deg-degan bangeeeetttt!! Begitu ada di hadapan akuh, akuh langsung kalungin bunga, akuh cium pipinya sambil bilang</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em> “Congratulation, welcome to Indonesia, enjoy Jakarta!”</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>akuh pegang pipinya, terus dia bilang “Thank you”.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aduhhhhhh.. akuh mau pingsaaaaannnnnn&#8230;</em></p>
<div id="attachment_2126" class="wp-caption aligncenter" style="width: 270px"><em><a href="http://ryudeka.com/wp-content/uploads/2011/11/0000379823.jpg"><img class="size-medium wp-image-2126" title="0000379823" src="http://ryudeka.com/wp-content/uploads/2011/11/0000379823-300x150.jpg" alt="" width="260" height="130" /></a></em><p class="wp-caption-text">taken from detikhot</p></div>
<p style="text-align: justify;"><em>Akuh seneng bangggeeeedddddd!! Kayaknya 4 jam persiapankuh sebelumnya gak sia-sia deh. Dia terkesima gitu dengan jambulkuh. Gitu juga dengan bulu mata anti badaikuh. Mungkin istrinya belum pernah pakai kali, yaah. Aaaahhhh.. Aa’ Beckss&#8230; akuh padamuuu&#8230;  Tapi yang pasti sih akuh seneng banget, walau agak grogi, tetapi akuh lancar juga ngomong Inggrisnya. Gak malu-maluin. Senangnyaaaa!</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Yang pasti pipiku ini nggak akan akuh cuci. Abis dicium David Beckham sih. Nanti kalo mau sholat, ga usah wudhu pake aer. Tayamum ajah. Abis sayang kalo kena aer. Aduh, pokoknya akuh beruntung banget deh. Besok akuh ada agenda nemenin dia makan malam. Duh, grogi nih. Tapi seneng. Besok selain nyiapin baju, akuh juga mau belajar table manner. Supaya bisa keliatan berkelas kalo makan jejeran sama dia. Tadinya sih akuh mau ngajarin makan pake tangan. Ini kan kebudayaan asli Indonesia kan? Kira-kira boleh nggak yah?? Nanti deh akuh tanya dulu sama panitianya.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Udah dulu yaaahh. Sekarang bobo duluuuuu.. Dadah diary-kuhh&#8230; xoxo</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ryudeka.com/?feed=rss2&#038;p=2121</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Air</title>
		<link>http://ryudeka.com/?p=2113</link>
		<comments>http://ryudeka.com/?p=2113#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 03:40:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ryudeka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik & Lirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ryudeka.com/?p=2113</guid>
		<description><![CDATA[Rela aku.. Mengalir mengular di lekuk liku lukamu, Merasuk ke sesela rusuk, Merumrum sampai ke sumsum, Mengusap sakitmu, membasuh debu dukamu. Rela aku.. Menghulu-hilir di parit perih perasaanmu, Bertubi-tubi tiba di tubir tabumu.. Kau tenang, aku tertenung.. Kau mengeram,  aku karam.. Kau meresap,  aku lembab.. Kau membeku,  aku rindu &#8230; Rela aku, Menjadi rinai gerimis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em>Rela aku..</em><br />
<em>Mengalir mengular di lekuk liku lukamu, </em><br />
<em>Merasuk ke sesela rusuk, </em><br />
<em>Merumrum sampai ke sumsum, </em><br />
<em>Mengusap sakitmu, membasuh debu dukamu. </em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Rela aku..</em><br />
<em>Menghulu-hilir di parit perih perasaanmu, </em><br />
<em>Bertubi-tubi tiba di tubir tabumu..</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Kau tenang, aku tertenung..</em><br />
<em>Kau mengeram,  aku karam..</em><br />
<em>Kau meresap,  aku lembab..</em><br />
<em>Kau membeku,  aku rindu &#8230;</em></p>
<p><em>Rela aku,</em><br />
<em>Menjadi rinai gerimis yang menggeriapkan gairahmu &#8230;</em><br />
<em>Menjadi kabut yang mengubur seluruh kalut, </em><br />
<em>Mengabur segala wujud, kecuali kau dan aku&#8230;</em></p>
<p><em>Rela aku,<br />
Menjadi peluh penat penantianmu, </em><br />
<em>Menjadi kantuk yang mengatupkan pelupukmu</em></p>
<p><em>Kau berdebur, aku berdebar..</em><br />
<em>Kau menggelombang,  aku limbung..</em><br />
<em>Kau mengalun,  aku terayun..</em><br />
<em>Kau menguap,  aku mengharap&#8230;</em></p>
<p><em>Rela aku </em>m<em>enjadi bayang-bayang di balik bilik benakmu, </em><br />
<em>Yang kaulafalkan dengan getar getir bibir dalam tidurmu. </em><br />
<em>Dan ketika kau terjaga,</em><br />
<em>Aku rela jadi deret aksara<br />
Yang jika kaubaca akan membawamu tamasya ke tempat dan tarikh tak terduga..</em></p>
<p><em>Kau mencurah, aku basah,</em><br />
<em>Kau mericik, aku tergelitik, </em><br />
<em>Kau mengarus, aku tergerus, </em><br />
<em>Kau tiada aku dahaga ..</em></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">(<em>by</em> <strong>Sitok Srengenge</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ryudeka.com/?feed=rss2&#038;p=2113</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PING!!!</title>
		<link>http://ryudeka.com/?p=2108</link>
		<comments>http://ryudeka.com/?p=2108#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 09:41:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ryudeka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penting & Tidak ...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ryudeka.com/?p=2108</guid>
		<description><![CDATA[Siapapun yang pertama kali memiliki ide tentang kalimat “PING!” atau &#8220;BUZZ&#8221; di BlackBerry Messenger atau Yahoo! Messenger, seharusnya juga memberikan penjelasan bagaimana menggunakan fitur ini dengan baik dan benar sehingga tidak membuat jalinan komunikasi yang ada malah menjadi terganggu.Karena sudah tidak terhitung lagi berapa banyaknya salah paham timbul karena salah persepsi, salah mengartikan bahasa tulisan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Siapapun yang pertama kali memiliki ide tentang kalimat “PING!” atau &#8220;BUZZ&#8221; di BlackBerry Messenger atau Yahoo! Messenger, seharusnya juga memberikan penjelasan bagaimana menggunakan fitur ini dengan baik dan benar sehingga tidak membuat jalinan komunikasi yang ada malah menjadi terganggu.Karena sudah tidak terhitung lagi berapa banyaknya salah paham timbul karena salah persepsi, salah mengartikan bahasa tulisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah saya terlalu lebay mengangkat ini sebagai sebuah masalah? Mungkin iya. Mengingat dari dulu saya memang selalu lebay kalau sudah urusannya tulis menulis. Selalu gatal membenarkan sebuah tulisan yang tidak sesuai dengan aturan ejaan yang benar. Bukan berarti tata cara penulisan saya sudah yang paling benar, tetapi memang suka gatal saja kalau ada yang tidak benar menuliskan sesuatu yang simpel. Misalnya, apa sih susahnya memulai sebuah kalimat dengan huruf besar dan sesudah tanda baca &#8216;titik&#8217;?  Untuk beberapa orang, mungkin itu bukan hal besar, tapi tidak bagi saya. Membacanya adalah sebuah siksaan. Hehehe. Jadi jangan heran,  me-retweet sebuah Twit pun, saya sering terlebih dulu membetulkan ejaannya. Iya, ada sesuatu yan tidak beres dalam diri saya memang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke si “PING!!!” ini, saya juga sempat terganggu dengan mereka yang hobi sekali menggunakannya secara berlebihan. Dalam artian, menggunakannya berkali-kali. Sebenarnya, menurut saya sih fungsi dari &#8220;PING!!!&#8221; ini diciptakan dulu adalah untuk melakukan <em>cross-check</em> terhadap keberadaan seseorang yang akan kita ajak <em>chat</em>, bukan? Apakah dia menerima pesan yang kita terima? Atau dalam beberapa hal, kita menggunakannya untuk melakukan<em> cross-check</em> terhadap kekuatan sinyal yang menyebabkan pesan kita sebelumnya tidak terkirim atau terterima. Itu saja. Sehingga apa perlu melakukan pengiriman “PING!” hingga sebanyak ini, misalnya?</p>
<p><a href="http://ryudeka.com/wp-content/uploads/2011/11/Capture14_52_33.jpg"><img class="aligncenter" title="Capture14_52_33" src="http://ryudeka.com/wp-content/uploads/2011/11/Capture14_52_33-300x225.jpg" alt="" width="207" height="155" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Sumpah, sebal banget rasanya ketika membuka BlackBerry, dan di layar muncul gambar begini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau saya, mendapat kiriman tulisan “PING!!!” (ya! huruf besar semua, masih ditambah dengan tanda seru tiga biji pula), seperti sedang diteriakin “Woii!!” tanpa terlebih dulu disapa. Dan itu tidak menyenangkan. Apalagi dalam kasus saya ini, saya sampai dikirimi lima kali berturut-turut. Itu berarti kan saya seperti sedang diteriakin &#8220;Woii!“Woii!!” “Wooiii!!” “Wwwoooiiii!!!!!!” “WOOOOOOIIIIIIIIIII!!!!”. Bukan salah saya dong kalau saya kemudian menganggap si pengirim ini adalah orang yang sangat tidak sabaran? Apalagi saat pesan itu dikirimkan, saya sedang shalat. Jadi ya dia mau mengirim &#8220;PING!!!&#8221; jutaan kali sampai BlackBerry-nya berubah jadi Monas  juga, ya nggak akan saya respon. Lha wong saya lagi shalat!</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana sih aturan mengirimkan si “PING!” ini sehingga tidak muncul adanya kesan tidak sopan dan tidak sabaran dari si pengirimnya? Dan apakah kita harus menyapa dulu baru kemudian diikuti dengan “PING!” ataukah sebaliknya? Saya sempat iseng mengeluarkan pertanyaan ini di Twitter. Dan jawabannya hampir mirip.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yang benar ya menyapa dulu, baru kemudian kalau nggak dijawab-jawab bisa mengirimkan &#8220;PING!!!&#8221;. Dan cukup sekali aja&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Menyapa dulu. &#8220;PING!!!&#8221; cukup sekali. Kalau memang penting, ya telepon langsung!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yang benar ya yang tidak usah &#8220;PING!!!&#8221; samasekali <img src='http://ryudeka.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> &#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">atau ada juga yang malah balas bertanya ke saya,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yang bener itu nyolek dulu baru manggil, atau manggil dulu baru nyolek?&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Hehehe.</p>
<p style="text-align: justify;">Jelas ya, intinya memang sama. Sebaiknya memang kita menyapa terlebih dulu. Itu sopan-santunnya. Baru kemudian ketika beberapa lama tidak mendapatkan respon, kita bolehlah mengirimkan “PING!!!” kepada teman chat kita tersebut. Siapa tahu dia tidak menyadari ada kiriman pesan dari kita. Bisa jadi itu terjadi karena mereka sedang dalam keadaan tertentu yang menyebabkan mereka tidak bisa segera memberikan respon. <em>Meeting</em>, sedagn menyetir, BlackBerry tertinggal di rumah atau mungkin dalam keadaan tertentu, tahu ada kiriman pesan tetapi malas untuk membalasnya <img src='http://ryudeka.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ryudeka.com/?feed=rss2&#038;p=2108</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

