August 10 2010

Celine, Ramadhan & Ormas Islam itu…

Mungkin terlalu corny kalau menyebutnya sebagai sebuah kebetulan. Karena menurut saya, there’s no such thing as coincidence. Tidak ada yang namanya kebetulan. Semua hal yang terjadi pada kita, betapapun mungkin itu sepertinya remeh, pasti ada campur tangan Tuhan didalamnya.

Hari Minggu yang lalu, lagi-lagi pemberitaan diisi dengan berita tidak menyenangkan tentang perbuatan sebuah ormas keagamaan yang menyerang teman-teman agama lain ketika sedang beribadah. Yes, untuk KESEKIAN KALINYA. Membaca berbagai perkembangan berita PLUS komentar-komentar di Twitter tentang hal ini, bukan sebuah suasana liburan yang menyenangkan pastinya. Sedih? Saya tidak tahu apa saya masih bisa sedih melihat kejadian ini. Tidak mengerti, mungkin kata yang lebih pas menggambarkan perasaan saya. Tidak mengerti, apa sih yang diajarkan oleh orangtua atau guru atau pemimpin mereka sehingga mereka bisa sedemikian benci-nya dengan orang yang berbeda dengan mereka.

Maka, daripada membuang-buang energi menghujat perbuatan buruk ormas itu (yang justru berarti membuat saya tidak berbeda dengan mereka), saya memilih untuk menikmati sisa waktu di hari libur itu dengan menonton sebuah DVD yang baru saja saya dapatkan dari teman saya Endar yang baru saja pulang dari beasiswanya di Australia. DVD ini :

Saya memang suka Celine. Dan setelah saya menonton DVD ini, it made me loved her even more.

Pada intinya, DVD ini menggabungkan berbagai cuplikan footage dari konser-konsernya di seluruh belahan dunia. Bagaimana orang-orang dari Johannesburg sampai Kuala Lumpur, dan Tokyo hingga Dubai menggilai penyanyi yang sejak pertama kali muncul sudah diramal oleh produser besar David Foster sebagai calon penyanyi besar ini. Mungkin timing-nya yang pas. Melihat DVD ini ketika suasana keberagaman di negara ini sedang acakadul, membuat saya berpikir,

“Seharusnya orang-orang yang hobinya menyerang agama lain itu menonton DVD ini…”.

Kenapa?

Ada banyak hal di DVD ini yang menggambarkan tentang indahnya sebuah perbedaan. Saya akan mengambil 2 diantaranya. Kalau semuanya, nanti DVD ini nggak laku. Hehehe. Pertama, dalam satu footage, terlihat persiapan Celine ketika akan tampil di Dubai yang sebagian besar penduduknya beragama Islam. Footage dimulai dengan diperlihatkannya bangunan-banguna Dubai yang modern, dengan diiringi oleh suara Adzan. Tidak itu saja, diperlihatkan juga seorang fans perempuan Celine yang sedang tertunduk membaca doa di sela-sela Adzan. Bahkan disana ditampilkan juga terjemahan Adzan tersebut dalam bahasa Inggris. Silakan bilang saya lebai, tapi jujur, saya merinding sekali melihatnya.

Apalagi setelah kemudian scene berpindah ke backstage. Celine terlihat sedang berdiskusi dengan para penata kostumnya tentang pakaian apa yang akan dikenakannya untuk konsernya malam itu. Celine memilih untuk memakai pakaian yang tertutup, demi menghormati budaya disana yang sekali lagi, mayoritas beragama Islam. Itulah kenapa dia memilih untuk memakai Boots dan juga Bolero.

“The Boots are covering my legs, and the Bolero’s covering my arms. I don’t necesseraly want to show any skin. We’ll adjust, we’ll adapt, because we can..

PLETAKK! Begitu rasanya ketika saya mendengarnya mengakhiri kalimatnya itu. BECAUSE WE CAN. Can you imagine? Semudah itu sebenarnya yang dibutuhkan kalau kita mau menghormati orang lain yang berbeda budaya dan kepercayaan dengan kita. Karena kita memang mau, dan karena itulah kita bisa melakukannya. Apalagi ketika kemudian di konsernya, Celine menyapa ribuan fansnya yang sebagian besar berkerudung, dengan sapaan, “Marhaban!” dan beberapa kata berbahasa Arab laninya yang saya tidak tahu apa artinya. Hehe. Mungkin apa yang dilakukannya itu adalah satu hal yang sederhana. Salah satu cara untuk berkomunikasi lebih dekat dengan penontonnya. Tapi pasti efeknya luar biasa. Bagaimana orang yang berbeda budaya (dan agama) dengan kita, mau bersikap ramah dengan mencoba mengerti budaya (dan agama) kita, walau dengan cara yang sesimpel itu!

Dibagian lain, footage yang menarik perhatian saya adalah ketika dia mengadakan konser di Jepang. Disana, dia mengajak salah satu penyanyi Jepang bernama Yuna Ito untuk bernyanyi bersamanya di panggung. Sebelum naik ke panggung, Celine menyerahkan sebuah batu berlian kepada Ito sambil berkata,

“Saya ingin memberikan ini sebagai sebuah suvenir. Ini adalah sebuah batu. Mungkin bentuknya tidak besar, tetapi ini adalah berlian. Dan kamu bisa membentuk apapun dari ini. Kamu bisa mengubahnya menjadi anting, gelang, bahkan kamu bisa membuat sebuah tindikan di hidung dari batu ini. Apapun yang kamu inginkan. You can build anything around this diamond. It’s like you’re building your career!

Isn’t it just sweet? Sebarapa banyak dari kita sih yang sadar kalau diri kita, karir kita, adalah ibarat sebuah berlian yang mahal harganya? Kita sering memandang remah kemampuan kita, sementara sebenarnya Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang besar dalam diri kita, dan tugas kita hanyalah tinggal memolesnya sehingga muncul lah diri kita yang berkilau itu. Sebuah perumpamaan (dan pastinya sebuah souvenir) yang sangat indah. Dan moment mengharukan itu di’perparah’ dengan kamera yang kemudian menangkap gambar seroang penonton yang mengibarkan dua bendera di tangannya. Satu memegang bendera Jepang, dan tangan satunya memegang bendera Amerika ketka mereka berdua tampi diatas panggung. Tanda persahabatan.

Sampai disitu, saya bisa merasakan dan menyimpulkan kalau perbedaan itu sebenarnya begitu indah! Bukankah menyenangkan kalau dalam hidup ini kita bisa selalu menemui hal baru sehingga kita tidak hidup dengan begitu-begitu saja? Makanya saya tidak bisa mengerti, kenapa ada orang yang bisa menganggap diri atau kelompoknya adalah yang paling benar, dan orang-orang atau kelompok yang berbeda dengan mereka adalah musuh dan harus dibubarkan bahkan dimusnahkan. Saya pribadi meyakini sekali bahwa agama yang saya peluk adalah agama yang benar. Karena kalau tidak, ngapain juga saya pilih? Ya toh? Tapi untuk meyakini itu, saya toh tidak harus menyalahkan dan menyerang agama lain.

Saya bingung, apa mereka tidak merasakan betapa indahnya ketika mendapatkan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dari teman-teman yang berbeda agama? Apa mereka tidak tahu, betapa senangnya ketika teman-teman kantor yang berlainan agama ikut sibuk membantu mempersiapkan hidangan berbuka puasa, misalnya? Saya sih masih ingat terus perasaan-perasaan itu. Termasuk misalnya ketika mantan saya yang berlainan agama pun sempat-sempatnya bangun hanya sekedar untuk mengirimkan SMS berisi ucapan selamat Sahur, bahkan menyimpan satu Sajadah di rumahnya, in case saya mau menunaikan ibadah sholat ketika berkunjung ke rumahnya. Itu simple sekali. Tapi rasanya, sungguh luar biasa.

Sama halnya ketika saya membaca berita di salah satu media lokal yang memberitakan, ketika Muktamar Muhammadiyah beberapa waktu yang lalu di Jogja, ada pengurus Gereja di Jogja yang ikut membantu menyumbang menyediakan minuman kemasan bagi peserta. Menyenangkan sekali membacanya. Mudah-mudahan dengan masuknya bulan Ramadhan ini, kita bisa semakin meyakini, bahwa dimanapun kita hidup dan bagaimanapun kita hidup, berbeda itu adalah indah.

Selamat puasa ya!


Copyright © 2014. All rights reserved.

Posted August 10, 2010 by ryudeka in category Musik & Lirik, Pencerahan

About the Author

a soulful broadcastainer

11 thoughts on “Celine, Ramadhan & Ormas Islam itu…

  1. yessy muchtar

    Aku membacanya penuh haru, mas :)

    Indah sekali seandainya semua perbedaan itu bisa membaur tanpa harus ada yang ingin menonjol lebih dari yang lain. Seandainya Ormas-ormas itu juga melihat DVD itu.

    Hal serupa justru hendak aku tulis di blog.

    Selamat puasa ya, mas…semoga kuat menahan bergunjing dan sedikit sabar menahan nyinyir…*PLETAK*

  2. Pingback: Hope, coz everything’s gonna be OKAY « Let Me Do It My way…

  3. ryudeka (Post author)

    @Yessy : Ah senangnyaa.. :) Kita sering one mind ya hehe.. Tengkyu, Selamat puasa juga…

  4. vizon

    Berkunjung ke sini atas provokasi Yessy… :)

    Perbedaan itu akan sangat indah, jika disikapi secara arif dan bijak. Sikap Celine yang menghargai budaya setempat dengan memakai pakaian tertutup adalah tauladan yang musti kita acungi jempol.

    Sejujurnya, saya juga tidak suka dengan sikap anarkis beberapa ormas di tanah air yang mengatasnamakan agama untuk tindakan-tindakan mereka. Namun, patut juga untuk digarisbawahi bahwa prinsip: “tidak ada asap jika tidak ada api”, itu berlaku untuk mereka. Bagi saya, mereka adalah “asap”. Pertanyaannya: siapakah “api”?. Jawabnya: bisa Guru-guru mereka, bisa juga “kepentingan politik”, dan bisa jadi itu adalah sikap tidak hormat dari para “pendatang” yang tidak menghargai budaya kita.

    Nice postingan Mas.
    Selamat puasa juga ya… :)

  5. ryudeka (Post author)

    @Mas Vizon : Memang complicated sekali ya. Saya juga setuju sekali. Mengubah cara pandang itu tidak mudah. Sama halnya kita mengubah sifat seseorang. Tapi saya juga setuju kalau semua pasti harus diusahakan :)

    Makasih ya udah berkunjung. Salam kenal :)

  6. Ria

    berbeda itu indah jika orang2 yang terlibat dalam perbedaan itu rukun dan saling bertoleransi. Aku suka tulisan mu ini mas mengingatkan ke orang-orang yang lupa bagaimana harus menghargai sebuah perbedaan.

    Aku udah lama gak main ke blogmu begitu main sudah ganti domain sendiri…selamat ya…
    datengnya dari blog yessy juga sekarang ini…hehehehehe

    ohya selamat berpuasa juga ;)

  7. Kumi

    Mas Deka, terharu bacanya … T.T

    Beberapa hari yang lalu, aku baca di salah satu surat kabar online (lupa yang mana), ada Gereja di Solo (kalau gak salah Gereja Manahan), yang sudah menjadi tradisi bagi mereka untuk membantu menyediakan makanan berbuka puasa untuk umat Islam. Di berita itu disebutkan memang tidak gratis, tetapi cukup membayar Rp.500,- saja dan sudah mendapatkan berbagai macam makanan sederhana. Yang biasanya berbuka di Gereja itu adalah tukang becak, kuli, dan masih banyak lagi. Sayangnya, salah satu organisasi yang mengatasnamakan Islam, tahun ini melarang tradisi gereja tersebut. Tidak disebutkan apakah kemudian tradisi itu diambil-alih oleh organisasi “Islam” tersebut, atau bagaimana. Aku hanya menyayangkan saja, kenapa harus dilarang. Toh kita semua tujuannya sama, hanya jalannya saja yang berbeda.

    Thank you Mas Deka atas postingannya yang menggugah.
    *masih berkaca-kaca bacanya*

  8. ryudeka (Post author)

    @Ria : Iya.. Makasih ya udah mampir lagi.. Senggol-senggol dong kalo di Fesbuk.. Hihiih…

    @Kumi : *puk puk peluk Kumi* :) Iya ya, mari berdoa supaya kedepannya, kita masih bisa memiliki harapan adanya rasa mensyukuri perbedaan ini.. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>